Sejarawan muslim Ibn Idhari al-Marakushi menyebutnya dalam Al-Bayan Al-Mughrib Fi Akhbar Al-Andalusi Wa Al-Maghrib. Berbeda dari sejarawan Kristen, dia mengatakan Sancho sebagai putra Alfonso “yang diperoleh dari istri Al-Mamun ibn Abbad yang telah pindah ke agama Kristen”.
Joshua C. Birk, dalam Norman Kings of Sicily and the Rise of the Anti-Islamic Critique: Baptized Sultans (2016), menyodorkan alternatif lain: Zaida adalah menantu Ibn Abbad dan janda Fath al-Mamun dari Kordoba, putra Ibn Abbad. Menurut Birk, Ibn Abbad bersedia memberi persembahan kepada Alfonso agar Sevilla tidak diserang.
Ketika Kordoba jatuh ke tangan Almoravid dan suaminya wafat, Zaida menjadi selir Alfonso. Zaida lalu pindah agama menjadi Kristen dan dibaptis sebagai Isabella. “Hal ini melahirkan kebingungan dan kemungkinan pencampuradukan dengan Isabella dari Prancis dalam kronik sejarah,” tulis Birk. Sejumlah kronik mencatat bahwa Alfonso menikah dengan seorang perempuan bernama Isabella pada 1099. Apakah Isabella ini sama dengan Zaida, tak pernah pasti hingga kini.
Zaida of Seville. (Credit: Florida Center for Instructional Technology)
Baca Juga:Pasangan Bucin Tak Sengaja Potret Penampakan dari Kejauhan, Hasilnya Bikin CemasKisah Ustadzah Taslimah Wafat Saat Pimpin Tahlil Rutin di Masjid Albarkah KH Abdullah Syafiie, Ini Surat dan Ayat yang Dibacanya
Patricia Grieve, guru besar Departemen Budaya Amerika Latin dan Iberi, Columbia University, menilai cerita ini hanyalah mitos yang tumbuh di masyarakat Al-Andalusia masa itu.
Dalam The Eve of Spain: Myths of Origins in the History of Christian, Muslim, and Jewish Conflict, Grieve menggambarkan banyak fiksi yang lahir dari kisah Zaida ini karena menawarkan alur memikat: seorang muslimah yang jatuh cinta kepada seorang raja Kristen, pindah agama ke Kristen, dan melahirkan satu-satunya putra bagi sang raja.
Sejarawan masa kini umumnya ragu akan kesahihan kisah ini. Lesley Hazleton, penulis yang telah menerbitkan beberapa buku tentang masa awal Islam, mengkritik artikel Abdelhamid al-Aouni yang bikin heboh itu. “Itu pelintiran lintas-agama yang bermaksud baik,” kata Hazleton. Tapi, “Itu jebakan klik (clickbait),” ujarnya, seperti dikutip kanal sejarah populer Amerika Serikat, History.com.
Hazleton menganggap cerita hubungan darah Ratu Elizabeth II dengan Nabi itu cuma rumor sebagai reaksi terhadap upaya menjelek-jelekkan Islam di Barat. Menurut dia, hal ini mengungkapkan sebuah harapan bahwa Elizabeth mungkin meminjamkan “kehormatan” kepada agama utama dunia itu. (*)
