Kendati demikian, perlu untuk dipahami bahwa mistisisme dalam Islam, yang dikenal sebagai tasawuf atau sufisme, sudah muncul jauh sebelumnya. Beberapa mistikus Islam sudah berperan dan memainkan pengaruhnya di berbagai belahan dunia Islam, bahkan sudah muncul sejak abad-abad pertama perkembangan Islam.
Syekh Siti Jenar bermukim di Jepara, memimpin pondok pesantren. Suatu kali, ketika Jenar sedang mengajar santri-santrinya di dalam masjid, tiba rombongan dari Demak. Ada Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Geseng (Raden Mas Cakrajaya), dan lainnya. Mereka datang untuk menyampaikan titah dari Raden Patah, Sultan Demak.
Sunan Bonang berucap salam. Tapi salam itu rupanya tidak terdengar karena suasana yang sedang ramai oleh para santri. Merasa tidak dihargai, Sunan Bonang naik pitam dan mendatangi Syekh Siti Jenar seraya berkata keras:
Baca Juga:Ratu Elizabeth II Disebut Keturunan Nabi Muhammad, Benarkah?Pasangan Bucin Tak Sengaja Potret Penampakan dari Kejauhan, Hasilnya Bikin Cemas
“Wahai Jenar yang sedang berada di alam kematian. Hentikan sejenak pengajaranmu. Jangan kau teruskan mengajar murid-muridmu!” bentak Sunan Bonang (R. Sasrawidjaja, Serat Syaikh Siti Jenar, 1958:48).
Rupanya kedatangan para ulama sekaligus politisi berpengaruh dari Demak itu atas perintah Raden Patah. Sang sultan mendapatkan kabar bahwa apa yang diajarkan oleh Jenar terindikasi telah menyimpang dari ajaran Islam.
Para wali dan ulama di wilayah kekuasaan Demak kala itu, termasuk Syekh Siti Jenar, hanya diberi kewenangan mengajarkan syahadat dan tauhid. Sementara Jenar dikabarkan sudah berani memberikan materi tentang ilmu ma’rifat dan hakikat.
Digelarlah forum sebagai ajang pertanggungjawaban atas keyakinan Jenar itu. Sebagian besar anggota Walisongo hadir dan “mengeroyok” Jenar dengan melancarkan berbagai argumen tentang ketuhanan.
Bagi Syekh Siti Jenar, inti paling mendasar tentang syahadat dan tauhid adalah manunggal (bersatu). Artinya, seluruh ciptaan Tuhan pasti akan kembali menyatu dengan yang menciptakan, manunggaling kawula gusti. Para wali beramai-ramai menyanggah keyakinan Jenar itu.
“Allah adalah yang bewujud haq,” kata Sunan Gunung Jati.
“Allah itu tidak berwarna, tidak berupa, tidak berarah, tidak bertempat, tidak berbahasa, tidak bersuara, wajib adanya, mustahil tidak adanya,” tandas Sunan Bonang.
“Allah itu adalah jauhnya tanpa batas, dekatnya tanpa rabaan,” imbuh Sunan Giri.
