Jika Prabu Siliwangi Muslim, Maka Kisah Kian Santang Tidak Ada

san 1
Leuweung Sancang yang diliputi misteri
0 Komentar

Ia tanpa ragu-ragu mengikuti jejak ibunya, memeluk Islam. Setelah terjadi proses Islamisasi, Prabu Siliwangi lalu ngahyang atau meng-hyang.

Muncul pertanyaan besar: Apakah Prabu Siliwangi menolak Islam, atau menerima diam-diam?

Kisah Kian Santang harus ada jalan tengah. Menurut Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN)Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana atau Kian (Kean) Santang pada masa akhir hidupnya mengembangkan Islam di daerah Priangan Selatan. Menurut sumber tradisi di Garut, Kean Santang sebagai putera raja Pajajaran (Prabu Siliwangi). Ia berselisih paham dengan ayahnya, tetapi akhirnya disepakati Kean Santang diberi keleluasaan menyebarkan Islam di seluruh Kerajaan Sunda. Petilasan Kean Santang ada di Godog berupa makam dan di Gunung Nagara berupa bekas pertahanan.

Baca Juga:Rajah Kalacakra di Gerbang Menara Kudus Ditakuti PejabatMasjid Kuno Berusia 120 Tahun Tenggelam Selama 30 Tahun Muncul Saat Kekeringan di Bendungan

Dikutip dari buku “Hitam Putih Pajajaran: Dari Kejayaan hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran” tulisan Fery Taufiq El-Jaquene, bahwa beberapa masyarakat Sunda sedikit demi sedikit mulai mengenal agama baru melalui jalur perdagangan, pernikahan dan politik.  Kerajaan Pajajaran dikenal sebagai kerajaan yang pluralis, bahkan sejak sebelum Prabu Siliwangi. Hal ini dibuktikan dengan pernikahan beda agama antara Prabu Siliwangi dengan perempuan Islam. 

Menurut penulis, di zaman dahulu bahakn sekarang pun masalah agama adalah masalah pribadi. Agama dalam hal ini konteksnya adalah hubungan manusia dengan Tuhan-nya. Kita mengutip Prasasti Kebantenan yang dikeluarkan oleh Prabu Siliwangi Sri Baduga Maharaja – Prasasti Kebantenan I (Prasasti Jayagiri):

Lempeng I (E.42a) recto:

//ong awignam as/tu. nihan/ sakakala ra hyan niskala was/tu kañcana pu/ turun/ ka ra hyan ningrat/ kañcana maka Å‹uni ka susuhunan/ ayÅ‘ na di pakuan/ pajajaran/ pun/ mulah mo mipahe dayÅ‘han/ di jayagiri dÅ‘n (baca; jÅ‘n) dayÅ‘han/ di su(n/)da sÄ•mbawa ayama nu Å‹abayu an/ iña ulah dek/ Å‹ahÅ‘ryanan iña ku nadasa. calagra. kapas/ timban. pare dondan pun/ maÅ‹aditudi ka para muhara. mulah dek/ men/ta an/ iña beya pun/ kena iña nu purah dibuhaya mibuhayakÅ‘n/ na kacarita an/ pun/ nu pagÅ‘h Å‹awaka n/ na dewa sasana/ na pun/ o.o

0 Komentar