Tradisi Rebo Wekasan, Sunan Kalijaga Mandi di Sungai Drajat Saat Berguru dengan Sunan Gunung Jati

rebo wekasan tawurji di keraton kanoman 21092022
Sultan Anom XII, Gusti Sultan Raja M Emiruddin (kiri), saat menebarkan uang koin dan permen dalam prosesi tawurji yang merupakan rangkaian tradisi rebo wekasan di Keraton Kanoman, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon
0 Komentar

image 7Tawurji Saat Rebo Wekasan via Instagram @iwan.junaedi

Ngapem berasal dari kata Apem yaitu berupa kue yang terbuat dari tepung beras yang di fermentasi. Apem dimakan disertai dengan pemanis (Kinca) yang terbuat dari gula jawa dan santan. Umumnya masyarakat masih melakukan ini dengan membagi-bagikan ke tetangga yang intinya adalah bersyukur (Selametan) di bulan Safar yang kita terhindar dari malapetaka. Pesan yang diambil dari Apem dan Kinca ini juga melambangkan kita untuk lebih memperhatikan fakir miskin, tetangga dan kerabat dekat untuk lebih mempererat tali silaturahmi karena di bulan ini penuh dengan malapetaka.

Apem atau Cimplo yang disandingkan dengan gula kelapa (kinca) khas Cirebon. (istimewa)Apem juga melambangkan diri kita, pada saat kita memakannya harus di celupkan di kinca yang melambangkan darah dan juga mengingatkan kita adanya kemungkinan diri kita akan terkena musibah. Ada juga cerita dari beberapa sumber bahwa tradisi ngapem ini berasal dari keraton yang sering membagi-bagikan apem di bulan ini, ada juga diartikan pada masa penjajahan belanda di Cirebon bahwa apem melambangkan Belanda yang harus di musnahkan dari cirebon dengan memasukan apem ke dalam kinca.

Bulan Safar diyakini bulan yang penuh malapetaka yang kemungkinannya bisa terjadi di antara kita. Hal ini konon di yakini sebagai upaya Sunan Kalijaga untuk mencegah kemungkinan datangnya Rebo Wekasan, beliau mandi di Sungai Drajat pada saat berguru pada Sunan Gunung Djati untuk membersihkan diri dari bala di hari Rebo Wekasan. Ini akhirnya di ikuti oleh masyarakat pada saat itu dan dijadikan adat oleh masyarakat Cirebon. Hingga kini masyarakat Cirebon di hari Rebo Wekasan mengunjungi petilasan Sunan Kalijaga. Dengan menggunakan perahu mereka menuju kalijaga dan melakukan mandi di tempat yang diyakini dulu Sunan kalijaga mandi. Kegiatan mandi tolak bala juga di lakukan dibeberpa wilayah lain di Sungai Cipager di Kelurahan Gegunung, Sumber, Kab. Cirebon.

Baca Juga:Jarang Disebutkan, Pajajaran Punya 5 Istana: Bima, Punta, Narayana, Madura, dan SuradipatiTeka-Teki Prasasti Hulu Dayeuh di Cirebon, Mungkinkah Desa Ini Ibu Kota Pakuan Pajajaran?

Adat ini disebut dengan “Ngirab” yang artinya bergerak atau menggerakan sesuatu untuk membuang yang kotor. Beberapa masyarakat masih meyakini adat ini dengan dengan serius secara sepiritual, akan tetapi kebanyakan orang hanya untuk rekreasi dan bersenang-senang saja untuk melupakan bulan yang penuh bala ini. adat ini juga menjadi sarana untuk tetap melestarikan dan menjaga ekosistem alam terutama sungai agar tetap terjaga.

0 Komentar