Tradisi Rebo Wekasan, Sunan Kalijaga Mandi di Sungai Drajat Saat Berguru dengan Sunan Gunung Jati

rebo wekasan tawurji di keraton kanoman 21092022
Sultan Anom XII, Gusti Sultan Raja M Emiruddin (kiri), saat menebarkan uang koin dan permen dalam prosesi tawurji yang merupakan rangkaian tradisi rebo wekasan di Keraton Kanoman, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon
0 Komentar

Semua kegiatan di bulan Safar ini belumlah lengkap bila tidak di akhiri dengan Rebo Wekasan yang merupakan hari yang sangat penting. Selepas Isya hingga Subuh merupakan pergantian hari yg biasanya di pagi hari banyak anak-anak yang berkopiah dengan sarung yang di kalungkan ke badannya akan keliling dari rumah ke rumah untuk mensenandungkan nyanyian;

“Wur tawur nyi tawur, selamat dawa umur…” yang artinya ”

Bu, bagikan lah sesuatu ke kami semoga selalu sehat/aman dan panjang umur…”

Artinya: bebas/selamat lah anda setelah hari Rebo terakhir ini.

Tradisi tawurji (sawer) sebagai salah satu tradisi tolak bala di bulan Safar. (istimewa)Biasanya si empunya rumah akan menanyakan: ” Sing endi cung?” terus akan di jawab oleh mereka dari pesantren atau dari daerah mana mereka tinggal…Mereka biasanya berkelompok minimal dua atau tiga orang dan kadang berlima.

Baca Juga:Jarang Disebutkan, Pajajaran Punya 5 Istana: Bima, Punta, Narayana, Madura, dan SuradipatiTeka-Teki Prasasti Hulu Dayeuh di Cirebon, Mungkinkah Desa Ini Ibu Kota Pakuan Pajajaran?

Riwayat lain mengatakan bahwa anak-anak tawurji ini berasal dari pengikut Syeikh Lemahabang/Syeh Siti Djenar alias Syeikh Datuk Abdul Djalil alias Syeikh Jabaranta. Berdasarkan sejarah dari para orang terdahulu bahwa Syekh Siti Djenar ini dulunya bagian dari para Wali hanya beliau mengajarkan sesuatu yang membuat orang lupa/mengesampingkan Syariat. Sehingga beliau konon di adili oleh dewan Walisongo di Masjid Agung Cirebon dan di eksekusi oleh Sunan Kudus dengan menggunakan keris Kantanaga milik Sunan Gunung Djati.

Warga mandi di sungai di kawasan Sumber untuk mencegah tolak bala. (Sumber:Portal Cirebon)

Syeikh Lemah Abang wafat jasadnya dan di makamkan di Kemlaten. Para pengikutnya (Abangan) sangatlah sedih, maka usul Sunan Kalijaga atas persetujuan Sunan Gunung Djati dengan Rebo Wekasan ini di anjurkan untuk berdoa, memberi selamat dari setiap rumah ke rumah agar selalu dilindungi oleh yang maha kuasa dan mereka di santuni dengan memberikan uang jajan karna tidak ada lagi yang mengasuh mereka.

Namun tradisi dan ritual sperti di atas lambat laun semakin terkikis oleh perkembangan zaman. namun esensinya harus tetap lestari diantaranya Apem dan Tawurji agar kita tetap memperhatikan kesejahteraan orang lain selain diri kita sendiri, tradisi berbagi/ sedekah harus terus dilakukan. Begitupun dengan Ngirab, kita diajari untuk membersihkan diri dari kotoran serta melestarikan alam dnegan menjaga dan memperhatikan kebersihan sungai. Rebo Wekasan sendiri agar tetap waspada dan memperbaiki diri akan segala kemungkinan buruk dalam hidup, dengan beribadah, berdoa, bersedekah dan instropeksi diri. (*)

0 Komentar