CARUBAN NAGARI-Tuk Karangsuwung adalah desa di kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Sebelum masuk ke dalam wilayah Kecamatan Lemahabang, desa ini merupakan bagian dari Kecamatan Karangsembung, Kabupaten Cirebon. Tuk Karangsuwung awalnya merupakan salah satu bagian atau dusun dari Desa Karangsuwung, Kecamatan Karangsembung. Warga setempat menyebutnya sebagai “cantilan” Karangsuwung. Sejak tahun 1985, Desa Karangsuwung dimekarkan, dan Tuk Karangsuwung menjadi desa mandiri, tapi masih termasuk Kecamatan Karangsembung.Â
Secara tradisional, desa ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu Tuk Lor (bagian utara) dan Tuk Kidul (bagian selatan). Lintasan rel kereta api yang melintang dari timur ke barat kerap menjadi pembagi wilayah ini. Di perbatasan wilayah ini memang terdapat stasiun kereta api bernama Stasiun Sindanglaut. Desa ini tampil sebagai wilayah yang cukup religius. Hal ini tampak dari banyaknya rumah ibadah di desa ini. Terdapat dua masjid besar dan tak kurang ada 10 mushola yang tersebar di beberapa bagian wilayah yang tidak terlalu luas ini. Disebut masjid besar, karena kedua masjid ini digunakan dalam pelaksanaan ibadah sholat Jum’at.
Baca Juga:Kuburan Massal Korban Tragedi 1965 Ditemukan di Blok Dongkol CirebonSerat Walangsungsang, Raden Sarip Ajak Prabu Siliwangi Memeluk Islam
Di dessa ini terdapat da buah situs makam keramat. Situs pertama adalah makam keramat Mbah Ardisela yang terdapat di sekitar Masjid Kyai Afadh. Menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari situs ini adalah mata air (Tuk) Muara Bengkeng itu. Kabarnya Mbah Ardisela (atau lengkapnya Kyai Raden Ardisela) merupakan kerabat Syech Syarif Hidayatulloh, salah seorang anggota Walisango dari Kesultanan Cirebon. Menurut cerita para orang tua, Mbah Ardisela mengasingkan diri dari kehidupan duniawi di keraton lalu menetap di desa ini untuk mengembangkan agama Islam.
Adapun situs kedua adalah makam keramat Mbah Muqoyyim. Makam ini terdapat agak ke utara, tetapi masih di sebelah selatan rel kereta api. Bersama-sama Mbah Ardisela, Mbah Muqoyyim mengembangkan agama Islam di desa ini. Sebelum sampai di desa Tuk Karangsuwung, Mah Muqoyyim yang berasal dari Indramayu ini telah berkelana smpai ke Pulau Madura untuk berguru kepada Mbah Kholil Bangkalan.
