Wonosobo ‘Wanua Seba’ Tempat Berkumpulnya Para Pendeta dari Seluruh Dunia Melalui Pantura Jawa

Gardu Pandang Tieng
Gardu Pandang Tieng (Google Maps (Soul Incubator)
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Wonosobo merupakan salah satu kabupaten yang kerap dinilai estetik yang terletak di Jawa Tengah.

Kata Wonosobo berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu “wanua” dan “seba” yang berarti tempat atau daerah berkumpulnya para pendeta dari seluruh dunia melalui pantai utara Jawa, atau hari ini melalui wilayah Batang.

Tanggal 24 Juli 1825 merupakan hari jadi Wonosobo yang terkenal dengan suhu udara yang dingin. Bahkan di bulan-bulan tertentu seperti Juli dan Agustus di pagi hari bisa mencapai 5 derajat hingga minus 1 derajat celcius.

Baca Juga:Anjawong Khodam Prabu Siliwangi, Apakah Anda Telah Mengetahuinya?Carita Ratu Pakuan, dari Soal Gunung Pertapaan Para Dewa Menitis Putri Pejabat Calon Istri Prabu Siliwangi hingga Putri Ngambetkasih Diperistri Ratu Pakuan

Wonosobo juga dilihat dari nilai sejarahnya tidak kalah menarik dengan kota lain. Di kabupaten ini, erat sekali dengan peninggalan keberadaan kerajaan Kalingga, yang dipimpin oleh Ratu Shima.

Terdapat beberapa arsitektur atau bangunan sepeninggalannya seperti candi Arjuna dan beberapa bangunan yang serupa.

Terdapat tiga tokoh yang berperan dalam babad alas atau membuka kawasan kota Wonosobo. Kyai Kolodete, Kyai Karim dan Kyai Walik. Ketiga tokoh ini, tersebar ke berbagai daerah di Wonosobo.

Kyai Kolodete berperan dan bermukim di dataran tinggi yang sekarang dikenal dengan Dieng di kawasan kecamatan Kejajar. Kyai Karim bermukim di Kalibeber. Sementara Kyai Walik bermukim di kawasan kota Wonosobo.

Kyai Kolodete merupakan salah satu orang yang memiliki kemampuan di atas orang seumurannya. Terbukti dengan keberhasilan beliau membuka dan mengembangkan habitat manusia di lereng Dieng.

Dahulu lereng Dieng dikenal dengan mistis dan tidak ada seorangpun yang mambuka permukiman di lereng tersebut. Lalu, munculah seseorang yang memilki kemapuan yang dianggap sakti oleh orang sekitar dan berhasil membuka permukiman di lereng Dieng, bernama Kyai Kolodete.

Daerah yang sekarang dikenal dengan nama Kalibeber merupakan hasil dari iktikad dan ikhtiar baik dari Kyai Karim. Beliau dengan ikhlas bermukim di Kalibeber dan beranak-pinak di sana.

Baca Juga:Mbah Kuwu Sangkan, Pemilik Lima Nama Pecinta Hewan, Salah Satunya Kebo Dongkol Bule KaroneJejak Mbah Muqoyyim di Tuk Karangsuwung

Sampai pada masa sekarang ini, Kalibeber dikenal sebagai pusatnya pendidikan di darah Wonosobo, terbukti dengan adanya Universitas Sains Al Quran dan berbagai sekolah formal yang beralamatkan di sana.

Tentu, ini tidak lepas dari jasanya Kyai Karim yang mengerahkan kemampuannya guna membentuk peradaban di daerah Wonosobo, khususnya Kalibeber.

0 Komentar