Sejarah Peteng Cirebon, Sejarah Rante Martabat Tembung Wali (Bagian 1)

gua pengawal
Goa Pengawal yang merupakan tempat para pengawal sunan beristirahat. Struktur goa tersebut dibuat pendek dengan tujuan agar mereka yang masuk kedalamnya menunduk. Arti dari gestur tubuh tersebut adalah menandakan hormat pada yang lebih tua atau lebih tinggi jabatannya. (Ilustrasi: Gua Sunyaragi)
0 Komentar

Adapun Raden Rahmat sebaiknya mengajarkan agama Islam di Ampel Gading. Raden Aliman mengajarkan agama Islam di Surabaya. Dan adapun Raden Ghalib Hurairah sebaiknya mengajarkan agama Islam di Gresik. Kalian diperbolehkan mengajarkan agama Islam sesukanya dengan membimbing para santri dengan tuntunan yang kuat. Kalian janganlah mencampurkan antara agama dengan drigama.” Ketiga putra Campa itu menyetujui pendapat dan usulan dari Raja Majapahit.

Raden Ghalib Hurairah kemudian berdiam di Gresik dan mendirikan pesantren. Raden Ghalib Hurairah memiliki seorang putri yang bernama Nyi Gedeng Tandawaruh dan seorang putra yang bernama Ki Masyaikh Ghos Ghiyas yang sangat gemar bertapa sehingga sangat disayangi dan dikasihi olehnya, karena Ki Masyaikh Ghos Ghiyas merupakan keturunan dari Samsu Tamres seorang wali yang sangat kuat bertapa hingga sembilan tahun tidak menyentuh wadah garam, menghindari rasa asin.

Raden Aliman bermukim di Surabaya membangun pondok pesantren kemudian memiliki dua orang putra. Putra yang pertama bernama Haji (h. 4) Usman yaitu yang bergelar Pangeran Karang Kemuning yang tinggal di wilayah Jepara. Putra yang muda bernama Khalifah Husen yang sangat gemar bertapa.

Baca Juga:Pesisir Mundu Pantai Cirebon, Kisah Pangeran Seda Ing Lautan Wafat di Laut JawaTahap Penuntutan, Kejari Kota Cirebon Proses 4 Tersangka Kasus Pompa Riol

Raden Rahmat bermukim di Ampel Gading hingga mashur namanya disebut dengan julukan Sunan Ampel. Kemudian Sunan Ampel memiliki sembilan putra dan putri, yang perempuan bernama Nyahi Gede Pancuran yang berada di wilayah Tuban. Putra yang kedua bernama

Nyi Gedeng Wilis yang menikah dengan Khalifah Nur Raga putra dari Arya Pecat Tanda yang masih kerabat dengan Rara Manila. Putra Sunan Ampel yang ketiga ialah bernama Nyi Gedeng Malaka. Putra keempat laki-laki bernama Makhdum Ibrahim yang kemudian bergelar Sunan Bonang

yang menikah (h. 5) dengan seorang putri bangsawan dari Tuban. Putra kelima Suanan Ampel ialah laki-laki yang bernama Masyaikh Mumat yang kelak bergelar Pangeran Drajat. Putra Sunan Ampel yang keenam dari istri yang lain ialah Raden Mamuta. Putra yang ketujuh ialah seorang laki-laki yang bernama Raden Sya’ban. Putra Sunan Ampel yang kedelapan ialah seorang wanita yang bernama

0 Komentar