Sejarah Peteng Cirebon, Sejarah Rante Martabat Tembung Wali (Bagian 1)

gua pengawal
Goa Pengawal yang merupakan tempat para pengawal sunan beristirahat. Struktur goa tersebut dibuat pendek dengan tujuan agar mereka yang masuk kedalamnya menunduk. Arti dari gestur tubuh tersebut adalah menandakan hormat pada yang lebih tua atau lebih tinggi jabatannya. (Ilustrasi: Gua Sunyaragi)
0 Komentar

DHANGDHANG GULA

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Perkenankanlah kami menceritakan Sejarah Ampel Denta; Rasulullah saw berputra Fatimah, Fatimah berputra Husen, kemudian Husen berputra (h. 1) yang bernama Zaenal Abidin, Zaenal Abidin berputra Zaenal Kabir, Zaenal Kabir berputra Jumadil Kabir, Jumadil Kabir kemudian berputra

Samsu Tamres atau Wiku Mustakim yang menikah dengan seorang putri dari Cempa yang bernanama Rara Sujinah. Kemudian pasangan Samsu Tamres dengan Rara Sujinah melahirkan dua anak laki-laki yang bernama Raden Rahmat dan Raden Aliman. Tidak lama kemudian Raja Cempa meninggal dunia dan digantikan oleh putranya

yang bernama Shoklim menjadi raja Cempa. Adiknya yang bernama Ghalib Hurairah yang selalu dengan Raden Rahmat bersama-sama selamanya di kemudian hari mereka bertiga mendatangi pulau Jawa untuk menemui uwaknya yang menjadi permaisuri Raja Majapahit. Permaisuri Raja Majapahit itu adik dari Rara Sujinah yang bernama Endarwati Kamulyan.

Baca Juga:Pesisir Mundu Pantai Cirebon, Kisah Pangeran Seda Ing Lautan Wafat di Laut JawaTahap Penuntutan, Kejari Kota Cirebon Proses 4 Tersangka Kasus Pompa Riol

Raden Aliman, Raden Rahmat, dan Ghalib Hurairah ternyata diterima baik oleh (h. 2) Raja Majapahait sehingga mereka bertiga berdiam lama di kerajaan Majapahit. Setelah mereke bertiga berdiam lama di Majapahit akhirnya mengetahi bahwa Raja Majapahit masih memeluk agama Budha. Setelah mengetahui keadaan ini maka mereka bertiga menghadap kepada Raja Majapahit untuk menyampaikan agama Islam dan agar Raja Majapahit mau dengan suka rela untuk memeluk agama Islam. Mendengar ajakan itu Raja Majapahit menolak untuk memeluk agama Islam dan sang raja masih kuat memegang agama Budha, kemudian sang raja berkata:

“Janganlah kamu salah dalam bertindak terhadap orang tua yang sangat baik sekali ini. Agar kalian menjadi besar dan berkembang di Majapahit ini, nanti suatu ketika kalian akan saya nikahkan dengan seorang putri yang sangat cantik dan elok dari Bupati Tuban yang bernama Rara Suteja Nirmala. Rara Suteja Nirmala ini sangat pantas jika dinikahkan dengan Raden Rahmat dan karena Raden Rahmat sangat pantas jika menjadi menantu Aria Tuban.

Adapun Raden Aliman sebaiknya dinikahkan dengan putri Aria Madura, dan adapun Raden Ghalib Hurairah tampaknya sangatlah pantas jika menjadi menantu Ki Aria Beringin yang bernama Rara Manila yang masih bersaudra dengan Rara Fatimah Rara Teja. Kalian bertiga saya perkenankan (h. 3) untuk mengajarkan agama Islam.

0 Komentar