Jejak Selusur Bekas Jalur Kereta Api Cirebon

Stasiun Cirebon 4
Suasana peron Stasiun Cirebon tahun 1913. Nampak lokomotif hendak memutar arah menggunakan meja putar. (Sumber: Kitlv.nl)
0 Komentar

Meski jalur baru telah beroperasi pada tahun 1915, jalur “kantong” trem lama MunduSindanglaut-Ciledug-Losari masih digunakan hingga tahun 1942 saat masa pendudukan militerJepang. Pada tahun tersebut, jalur ini dibongkar oleh pemerintah Jepang karena rel-rel nyadialihkan untuk pembangunan jalur KA di wilayah lainnya.

Jepretan Layar 2022 10 02 pukul 10.25.44

Di tahun 2015, pada bekas jalur trem ini masih bisa dijumpai beberapa bangunan yang dahuluberfungsi sebagai stasiun KA, seperti Stasiun Ciledug (SCS) dan Stasiun Sindanglaut (SCS)serta bekas jembatan rangka baja Kali Cimanis. Peninggalan lain yang masih tampak hanyaberupa bekas railbed (badan jalan rel), pondasi jembatan dan sepotong rel.

Jepretan Layar 2022 10 02 pukul 10.19.58

Jepretan Layar 2022 10 02 pukul 10.21.53

Jepretan Layar 2022 10 02 pukul 10.21.53 1

Jalur KA Cirebon-Kadipaten sepanjang 48,7 km juga dibangun oleh SCS dengan tujuan awalmemberikan aksesibilitas ke daerah sentra produksi gula di sekitar jalur ini. Di Klangenan,Jamblang, yang terletak di lintas ini, terdapat percabangan jalur KA menuju ke Gunung Giwursekitar 5 km.

Baca Juga:Melacak Kanjuruhan di Prasasti Dinoyo, Sumber Asal-Usul Leluhur MalangOOTB untuk Mendongkrak Minat Literasi Masyarakat

Kedua jalur KA ini ditutup di kisaran tahun 1975-1980, meski jalur ke Gunung Giwur sempat ditutup pada tahun 1933 namun kemudian diaktifkan kembali. Untuk kebutuhan konektivitas dcngan angkutan laut, pada masa lalu dibangun juga jalur-jalur KA menuju ke Pelabuhan Cirebon baik oleh SCS maupun oleh Perusahaan KA milik Pemerintah Hindia Belanda yang beroperasi kemudian di wilayah Cirebon.

Jepretan Layar 2022 10 02 pukul 10.26.52

Hal menarik, selain bekas jalur KA, terdapat pula kisah mengenai jalur pipa air bawah tanah dari sumber mata air Cikalahang menuju ke Stasiun Cirebon Kejaksan sejauh sekitar 22 km. Jalur pipa tersebut terletak di bawah jalur KA Cirebon-Jamblang-Gunung Giwur untuk keperluan penyediaan air bersih diStasiun Cirebon Kejaksan.

Sedangkan bekas jalur KA Jatibarang-Indramayu (19 km) dan Jatibarang-Karangampel (18 km)merupakan jalur KA yang dibangun oleh perusahaan KA milik Pemerintah Hindia Belanda (Staatsspoorwegen/SS) dan dioperasikan masing-masing pada tahun 1912 dan 1926. Jalurjalur ini dibuat untuk membuka akses menuju Kota Indramayu di pesisir utara dan juga ke arah wilayah timur Kabupaten Indramayu. Sayang, jalur menuju Karangampel ditutup pada tahun 1932, hanya berselang enam tahun sejak dibuka, karena dipandang tidak menguntungkan.

Sementara jalur menuju Indramayu dihentikan operasinya pada tahun 1978 seiring dengan banyak ditutupnya jalur-jalur percabangan KA pada masa itu. Tidak banyak peninggalan masa silam yang tersisa di bekas jalur-jalur ini selain railbed (bekas badan jalan rel), bekas pondasi jembatan, serta juga, bekas bangunan stasiun di Lobener dan Indramayu, yang meski dalam kondisi yang menyedihkan, namun masih menyisakan keindahan detil arsitektur.

0 Komentar