CARUBAN NAGARI-Kanjuruhan merupakan kerajaan yang pernah berpusat di wilayah tempat Kota Malang saat ini. Hal tersebut dikonfirmasi dari penemuan prasasti Dinoyo. Kini, prasasti sejarah Kerajaan Kanjuruhan yang berangka tahun 682 Åšaka atau 760 Masehi itu tersimpan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.
Jejak sejarah Kanjuruhan juga dapat dilihat dari Candi Badut yang terletak di desa Karang Besuki, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Situs ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Kanjuruhan dan dibangun pada masa pemerintahan Gajayana.
Jacques Dumarcay, seorang ahli bangunan kuno berpendapat candi ini pernah mengalami dua kali perubahan yaitu pada abad 9 dan abad 13, demikian dikutip dari laman Kemdikbud.
Baca Juga:OOTB untuk Mendongkrak Minat Literasi MasyarakatBocah Dianiaya Ibu Angkat di Cirebon Akhirnya Bertemu Usai Terpisah Selama 5 Tahun
Candi bercorak Hindu-Siwa tersebut, menurut Purbatjaraka, terkait dengan Prasasti Dinoyo. Sebab lokasi penemuan prasasti Dinoyo tidak jauh dari Candi Badut, dan sama-sama menunjukkan unsur Siwaisme yang menonjol.
Berdasarkan pendapat B. De Haan yang juga dilansir di laman Kemdikbud, Candi Badut termasuk bangunan situs tertua di Jawa Timur karena arsitektur maupun seni arcanya memperlihatkan gaya Jawa Tengah. Pendapat ini didukung pula oleh Dr. R. Soekmono dalam disertasinya.
Pengungkapan jejak Kerajaan Kanjuruhan tidak terlepas dari diketahuinya isi dari prasasti Dinoyo, yang ditemukan pada awal abad ke-20.
Mengutip keterangan di situs Sistem Pendataan Kebudayaan Terpadu milik Kemendikbud, prasasti Dinoyo semula pecah menjadi 3 bagian dan ketiganya ditemukan di tempat terpisah dengan waktu penemuan yang berlainan.
Pecahan pertama berupa bagian tengah prasasti yang ditemukan pada tahun 1904 di Desa Dinoyo. Meski diberitakan ditemukan di Desa Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, tetapi prasasti tersebut kemungkinan besar ditemukan di Desa Merjoyo.
Selanjutnya, ditemukan pecahan kedua dan ketiga, berupa bagian atas serta bawah prasasti, pada tahun 1923, di Desa Merjosari. Tiga desa tersebut letaknya bersebelahan sehingga tidak terpaut jauh jaraknya.
W.J. van der Meulen berpendapat, meskipun prasasti Dinoyo memakai Bahasa Sansekerta, isinya menunjukkan adanya pengaruh Bahasa Jawa Kuno. Maka itu, pemahatan prasasti Dinoyo diyakini berlangsung saat awal mula penggunaan Bahasa Sanskerta dalam tradisi Bahasa Jawa Kuno.
