Dalam penelitian Th. Stevens tercatat anggota loji “Humanitas” di Tegal dimana anggotanya berasal dari Cirebon selain Tegal, Pemalang, Pekalongan, tidak pernah berjumlah lebih dari 45 anggota. Buku Gedenkboek Vrijmetselarij mencatat bahwa sekitar tahun 1893 telah terdapat beberapa Freemason yang belum diakui secara resmi di loji-loji, yang tersebar di beberapa kota yaitu Bandung, Blitar, Cirebon, Yogyakarta, Padang, Pekalongan, Rembang, Salatiga, Surabaya dan Tegal (“De Ster in het Oosten”, Weltevreden, “La Constante et Fidele”, Semarang, “De Vriendschap,” 1917).
Hal tersebut menunjukkan bahwa telah terdapat Freemason dari wilayah Cirebon namun belum teridentifikasi dengan jelas. Catatan lain menunjukkan bahwa terdapat beberapa Freemason yang tinggal di Cirebon pada tahun 1910 (Indisch maçonniek tijdschrift, jrg 17, 1911-1912, 1911).
Fakta tersebut tercatat dalam laporan tahunan salah satu loji terbesar di Hindia Belanda yaitu Loji “Constante et Fidele” yang telah berdiri sejak tahun 1801 di Semarang.
Baca Juga:Babak Baru Kasus Perusakan Bekas Benteng KartasuraTim Ahli Cagar Budaya Ungkap Pembangunan Revitalisasi Halte TransJakarta Halangi Gereja Koinonia
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa pada pertemuan di Loji “Constante et Fidele” yang berlangsung bulan Juli 1910, terdapat seorang anggota tua berusia 70 tahun lebih yang bertempat tinggal di Cirebon sering berhalangan hadir.
Transportasi Cirebon ke Semarang dimungkinkan karena sejak 1908 perjalanan dapat ditempuh menggunakan kereta api perusahaan S.C.S (Semarang- Cirebon Stoomtram Maatschappij) yang dilatarbelakangi kepentingan ekonomi kolonial.
Pembangunan jalur transportasi membuat sangat mudah dan murah untuk bepergian misalnya, dari Tegal dan Cirebon ke Semarang, Solo atau Yogyakarta (Indisch maçonniek tijdschrift, jrg 19, 1913-1914, 1914).
Ketidakhadiran Freemason tua dari Cirebon karena usia yang cukup melelahkan untuk menempuh jarak jauh 373 km Cirebon ke Semarang meskipun menggunakan kereta api. Namun tidak ditemukan daftar nama sehingga belum jelas siapa Freemason tua yang tinggal di Cirebon pada catatan tersebut.
Pada periode 1911-1916 tidak ditemukan adanya aktifitas dari Freemason Cirebon berdasarkan Indisch Maçonniek Tijdschrift yaitu laporan tahunan loji-loji di Hindia Belanda. Informasi mengenai Freemasonry di Cirebon ditemukan kembali pada tahun laporan tahunan 1917.
Pada tanggal 15 Desember 1917, tercatat hadirnya seorang Freemason dari Cirebon pada pertemuan Loji “St. Jan” di Bandung. Pertemuan tersebut dihadiri oleh D. C. A. Lugt, enam Freemason dari Batavia, Magelang dan Surabaya, serta P. A. Roelofsen, Koning, serta lima orang Freemason dari Batavia, Buitenzorg (Bogor), Cirebon dan Banyubiru (Indisch maçonniek tijdschrift, jrg 23, 1917-1918, 1918).
