CARUBAN NAGARI-Catatan paling awal mengenai keberadaan Freemasonry di Cirebon dapat dimulai dari pendirian loji “Humanitas” di Tegal sebagai loji paling dekat dengan Cirebon dengan jarak sekitar 45 mil.
Pendirinya menurut majalah L’union Fraternelle; Weekblad Voor Vrijmetselaars adalah van Olden, Slingerlandt dan Hesselberg (L’union fraternelle; weekblad voor vrijmetselaars, jrg 8, 1898, no 29, 16- 07-1898, 1898).
Buku kenangan Freemasonry di Hindia Belanda, menyebutkan para pendiri lebih lengkap yaitu Mr. Vr. M. R. H. van Olden, J. B. G. van Slingerlandt, F. G. Voorbij, H. ‘t Hoen, C. van Eek, J. E. van der Linden dan J.
Baca Juga:Babak Baru Kasus Perusakan Bekas Benteng KartasuraTim Ahli Cagar Budaya Ungkap Pembangunan Revitalisasi Halte TransJakarta Halangi Gereja Koinonia
Th. Hesselberg yang diprakarsai pada 21 April 1897 (“De Ster in het Oosten”, Weltevreden, “La Constante et Fidele”, Semarang, “De Vriendschap,” 1917). van Olden tercatat memiliki tempat tinggal di dekat residen Cirebon (Indisch maçonniek tijdschrift, jrg 2, 1896-1897, 1897).
Beberapa bulan selanjutnya yaitu November 1898 diadakan pertemuan di loji “Humanitas” yang diprakarsai oleh Freemason dari Tegal dan Cirebon, dengan panitianya adalah H. J. W. van Lawick van Pabst, W. Buurman van Vreeden, A. G. Lamminga, G. W. S. van Hasselt (L’union fraternelle; weekblad voor vrijmetselaars, jrg 9, 1899, no 15, 08-04-1899, 1899).
Adapun struktur kepengurusan selanjutnya adalah G. J. P. Vallete, R. H. van Olden, G. A. Malga, F. G. A. Akker, G. W. S. van Hasselt, A. Bochardt (L’union fraternelle; weekblad voor vrijmetselaars, jrg 9, 1899, no 15, 08-04-1899, 1899).
Akker merupakan Freemason yang bermukim di Cirebon dengan pekerjaan sebagai penerima bea masuk, ekspor dan bea cukai sejak 1895 (De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad; 10 sep 1895 – Art. 37, 1895).
Keberadaan orang Belanda di Cirebon merupakan minoritas berdasarkan perbandingan jumlah penduduk di Karesidenan Cirebon (jumlah total sekitar 1,5 juta jiwa) ataupun jika dibandingkan berdasarkan jumlah penduduk di ibukota Karesidenan yaitu kota Cirebon saja (jumlah total sekitar 20.000 jiwa).
Jumlah minoritas tersebut tidak mempengaruhi penerapan budaya Eropa dalam aspek organisasi perkumpulan, khususnya dalam melaksanakan ajaran dan pertemuan Freemasonry bagi anggota- anggotanya di Cirebon walaupun tidak berjumlah banyak.
