Cara kedua adalah membunuh korban secara langsung. Agar aksinya berhasil dan tidak diketahui orang lain, suanggi akan mengintai korbannya terlebih dahulu. Ketika situasi dirasa aman, suanggi melempar korban dengan batu kecil atau tanah yang sudah diberi mantra.
Ketika mantra itu sampai ke korban, korban langsung tidak sadarkan diri. Lalu suanggi akan menyiksa korbannya dengan cara memukul, menendang, hingga membantingnya berkali-kali. Aksi itu dilancarkan suanggi setelah melucuti pakaian korban. Dengan begitu, tidak akan ada bukti kekerasan yang ditemukan di baju korban.
Kengerian masih berlanjut. Setelah membunuhnya, suanggi lantas menjilat luka-luka yang ada di tubuh korban tersebut. Berkat ilmu hitam yang dimilikinya, luka-luka itu tertutup sendiri sehingga tidak ada memar ataupun luka yang tampak dari luar.
Baca Juga:Ini Pidato Soekarno Saat Peringati Maulid NabiHindari Incaran Belanda, Pondok Pesantren Pertama Didirikan Syekh Tolhah di Begong
Mengutip Komik Horor Nusantara: Setan Lokal tulisan Bae Dong Sun, suanggi biasanya membangkitkan kembali korban yang dibunuh guna menutupi kejahatannya. Korban lalu akan mati sekali lagi di depan orang lain dengan cara yang wajar, misalnya kecelakaan, terjatuh, dan lain-lain.
Setelah misinya berhasil, suanggi akan menari dan menyanyi di depan rumah pengguna jasanya. Ia juga akan memberikan potongan rambut korban ke penyuruhnya sebelum mayat dikuburkan. (*)
