Ini Pidato Soekarno Saat Peringati Maulid Nabi

1793807044
Pidato Bung Karno dalam peringatan Maulid Nabi pada tahun 1963 di Jakarta
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Setiap tanggal 12 Rabiul Awal, seluruh umat Islam memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW atau biasa disebut dengan Maulid Nabi.

Untuk tahun 2022 ini, Maulid Nabi jatuh pada Kamis, 8 Oktober 2022.

Sebagai negara dengan mayoritas muslim, Maulid Nabi sudah sejak dulu diperingati di Indonesia.

Bahkan sejak presiden pertama Indonesia Soekarno berkuasa, dia pernah menyampaikan pidato memperingati Maulid Nabi yang begitu menyentuh hati dan membuat bulu kuduk bergetar.

Baca Juga:Hindari Incaran Belanda, Pondok Pesantren Pertama Didirikan Syekh Tolhah di BegongMengenal Syekh Tolhah Keturunan Sunan Gunung Jati dari Kalisapu

Bagi umat Islam, peringatan Maulid Nabi biasa bertujuan untuk mengenang perjuangan Rasulullah SAW dalam membawa ajaran Tuhan semesta alam, Allah SWT.

Dikutip carubannagari.com dari kanal YouTube Rumah Kebangsaan Pancasila, dalam pidatonya, Soekarno mengingatkan bahwa di setiap masa pasti ada pemimpin besarnya masing-masing.

https://www.youtube.com/watch?v=doqYtV7Gchg

“Tadi tidak ada satu bangsa yang besar, yang tidak mempunyai orang besar. Seluruh sejarah manusia. Coba saudara, petani, sejarah manusia itu. Kurun ribuan tahun sebelum kita, sampai sekarang. Di perjalanan umat sejarah manusia, kita menjumpai orang-orang besar,” kata Soekarno.

Soekarno menyatakan bahwa ajaran Islam sangat mudah dan masuk akal untuk diterima oleh manusia.

“Islam adalah agama yang menuju kepada otak. Islam adalah agama yang menuju hati dari otak. Segala ajaran Islam bisa diterima oleh hati kita dan bisa diterima oleh otak,” ucap Soekarno dengan suara lantangnya sambil mengangkat tangannya sebgai simbol semangat.

“Di dalam sejarah umat manusia,selalu. Saudara-saudara manusia itu ada yang mimpin, Rasul-Rasul. Pasti selalu ada perantara antara ajaran. Masuk akal bila kita percaya ada Rasul-Rasul. Padahal kita tidak pernah melihat Muhammad. Enggak pernah kita melihat Musa. Enggak pernah kita melihat Sulaiman. Enggak pernah melihat Isa,” ucapnya menambahkan.

Memperingati Maulid Nabi bagi Soekarno bukan hanya sekedar merayakan hari lahir Rasullulah SAW semata. Melainkan ajaran yang dibawanya dan perjuangan yang dilaluinya di masa lalu.

Baca Juga:Panti Pijat dan Karaoke di Kota Cirebon Berhenti Beroperasi Selama Peringatan Maulid NabiOdong-Odong Dilarang Masuk ke Jalur Arteri

“Kita sekarang ini merayakan Maulud, Maulud Nabi. Apa sebenarnya yang kita rayakan? Bukan sekadar Muhammad-nya. Bukan sekadar dia itu dulu Nabi, tidak. Yang kita rayakan sebenarnya ialah ajaran, konsepsi, agama yang ia berikan kepada umat,” ucap Soekarno.

0 Komentar