CARUBAN NAGARI-Tradisi Maulid Nabi Saw, merupakan tradisi yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah Islamisasi di nusantara. Tradisi ini muncul dan berkembang sejalan dengan peran dakwah Walisongo sejak abad ke-15.
Dalam upaya Islamisasi, para wali songo, termasuk Sunan Gunung Jati dalam dakwahnya menggunakan pendekatan sosiologi, antropologi, teologi dan pemahaman yang banyak memunculkan nilai-nilai dan ajaran dengan agama lokal (Hindu-Budha-Kapitayan).
Sehingga, terjadi sebuah proses akulturasi dan sinkretisasi budaya yang di dalamnya mengandung ajaran dan nilai-nilai Islam. Dalam perjalanannya, tradisi Maulid Nabi Saw berkembang dan menyebar di Nusa- Jawa.
Baca Juga:West Java Triathlon Bakal Digelar Rutin, Korem 063/SGJ: Sukses Sedot Atensi MasyarakatJembatan Penghubung Plompong-Wanareja di Brebes Terputus, Akses Jalan Lumpuh
Ratu Raja Arimbi Nurtina, selaku Juru Bicara Keraton Kanoman Cirebon mengatakan bahwa istilah penyebutan peringatan Maulid Nabi Saw sendiri bermacam-macam, bergantung pada daerah masing-masing.
“Di Keraton Cirebon, tradisi Maulid Nabi dikenal dengan beragam istilah, antara lain Pelalan, Sekatenan, Pelal Ageng, Muludan dan Panjang Jimat,” ujarnya kepada awak media di sela-sela Tradisi Panjang Jimat di Keraton Kanoman Cirebon, Sabtu (9/10) malam.
Lanjut Ratu Arimbi, Tradisi ini sudah muncul dan berkembang sejak masa pemerintahan Pangeran Cakrabuwana, anak Prabu Siliwangi yang menjadi penguasa Cirebon sejak 1447-1479 M.
“Sejak masa Pangeran Cakrabuwana, tradisi ini diperingati lengkap dengan tradisi-tradisi yang dilakukan sebelumnya, yang dimulai sejak tanggal 1 Safar sampai pada puncaknya 12 Robiul Awal,” bebernya.
Tradisi ini, kata Ratu Arimbi, terus bertahan dan dilestarikan secara rutin ketika masa Sunan Gunung Jati (1479-1568 M), Fatahillah (1568-1570 M).
Kemudian, berlanjut pada mas Pangeran Mas Zainul ‘Arifin atau Panembahan Ratu I (1570-1649/50 M), masa Panembahan Girilaya (1650-1662), masa Pangeran Wangsakerta atau Panembahan Tohpati (1662-1677/8 M) dan sampai pada masa pemerintahan Sultan Badridin Sultan Kanoman pertama hingga generasi sultan keduabelas sekarang, Sultan Raja Muhammad Emirudin, sebagai pewaris trah Sunan Gunung Jati dan pemangku tradisi Maulid Nabi Saw.
Malam puncak tradisi Maulid Nabi Saw di Keraton Kanoman, biasanya disebut dengan malam Pelal Ageng, atau biasa disebut Panjang Jimat.
Baca Juga:Fakta Sosok Tiara Kartika yang Disebut Si Anak Kuntilanak, Dimana Tinggalnya?Setahun Belakangan, 2 Petinggi Indomaret Meninggal Dunia di Bulan Oktober, Tertabrak Truk
Ratu Arimbi menjelaskan, Panjang Jimat adalah acara inti yang bermaksud memperingati kelahiran Gusti Rasulullah SAW pada malam 12 Rabiul Awal tahun Gajah (571 M) di Kota Mekah.
