Kemudian, benda-benda pusaka tersebut dicuci di atas panggung bambu itu. Setelah beres dicuci, benda-benda itu dikeringkan dengan cara di asapi. Asap itu menerbarkan aroma yang wangi, kemudian setelah selesai dikeringkan benda pusaka tersebut diganti kain pembungkusnya.
Biasanya orang-orang sangat ramai untuk menyaksikan proses mencuci itu dari dekat sehingga sangat berdesakkan, dan ada juga sebagian orang yang mengambil air dari cucian benda pusaka tersebut yang katanya mempunyai manfaat. Namun, itu kembali pada diri kita sendiri. Selanjutnya, setelah selesai proses pencucian dan membungkus kembali benda pusaka itu, benda-benda pusaka tersebut dikembalikan ke tempat awalnya di Bumi Alit.
Selain menjadi upacara rutin tahunan mencuci benda-benda pusaka, kegiatan nyangku ini juga menjadi momentum menyambung kembali tali kekeluargaan khususnya masyarakat panjalu. Karena dengan adanya kegiatan ini, para masyarakat panjalu yang sedang diluar kota pulang untuk melihat upacara ini sehingga bisa bertemu dengan sesama masyarakat lain.
Baca Juga:Apakah Anda Masih Berpikir Negara Serikat Lebih Baik untuk Indonesia?Tradisi Nyangku di Panjalu, Bupati Ciamis: Jangan Sampai Diklaim Daerah Lain
Namun, semenjak adanya COVID-19, kegiatan Nyangku inipun tidak seramai sebelum-sebelumnya, dan hanya melaksanakan nyangku oleh orang-orang tertentu saja supaya tidak mengundang perkumpulan banyak orang.
Walaupun begitu, masyarakat di sana tetap melaksanakannya dengan protokol kesehatan yang ada dan turut melestarikan budaya yang sudah menjadi tradisi. Dengan tetap melestarikan budaya, tentu juga menjadikan diri kita untuk terus melindungi budaya Indonesia yang aset negara. (*)
