Yang namanya sumpah tentu jauh lebih sakral ketimbang keputusan rapat. Ia juga malih menjadi alat ideologis dan politik. Ini bukan sekali dilakukan Sukarno. Bersama kolaborator ideologisnya Muhammad Yamin, Sukarno sebelumnya mengagung-agungkan juga Sumpah Palapa yang konon dibacakan Mahapatih Gajah Mada sebagai upaya menyatukan bangsa Indonesia.
Dalam pidatonya pada 1958 tersebut. Naskah keputusan kongres juga berubah.
Kami putra-putri Indonesia bersumpah: Satu, mengakui tanah air, tanah air Indonesia. Dua, kami putra-putri Indonesai mengakui satu bangsa, bangsa Indonesia. Ketiga, kami putra-putri Indonesia mengakui satu bahasa, bahasa Indonesia.
Dalam hal ini, menurut JJ Rizal, Sukarno melakukan dua hal. Pertama, melakukan rekayasa atas teks Sumpah Pemuda. Kedua, melakukan rekayasa terhadap kepala atau judul hasil Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Untuk soal rekayasa teks, Sukarno membuat semuanya serba satu dan membuat penyuntingan bahasa.
Baca Juga:Ratusan Warga Terdampak Pembangunan Jalan Tol Cisumdawu Seksi II Tuntut Kepastian Ganti RugiHadiri Peringatan Sumpah Pemuda di Tugu Proklamasi, RGP2024 Jawa Barat: Anak Muda Harus Bersikap Kritis Terhadap Pemerintahan
“Inilah yang luar biasa, betapa Sukarno dan Yamin bisa mengaitkan hasil Kongres Pemuda II sebagai identitas bangsa dan menariknya ke masa Sumpah Palapa Gajah Mada. Mulai saat itulah ada perasaan’bersalah’ dari mereka yang ingin melakukan aksi perlawanan terhadap pemerintah pusat,” ujar JJ Rizal.
Sejak 1958 itulah, hingga saat ini 28 Oktober dirayakan sebagai hari Sumpah Pemuda. Sementara sentralisasi yang diprotes di Sumatera dan Sulawesi bercokol lama hingga 1998 saat kemudian Orde Baru tumbang dan muncul regulasi-regulasi otonomi daerah. (*)
