CARUBAN NAGARI-Sultan Sepuh Aloeda II Rahardjo Djali Kraton Kasepuhan melakukan silaturahmi dan diterima mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Jenderal (Purn) AM Hendropriyono, Minggu (6/11).
Kedatangan Sultan Sepuh Aloeda II Rahardjo Djali menyampaikan berbagai aspirasi dalam menggugah kembali generasi muda mengingat perjuangan bangsa Indonesia melalui kerajaan–kerajaan pada masa lampau dalam mengusir penjajah sebelum berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pada kesempatan tersebut, Sultan Sepuh Aloeda II Rahardjo Djali, menyampaikan ucapan terima kasih atas atensi dari Jenderal (Purn) AM Hendropriyono dalam penerimaan yang hangat.
Baca Juga:Ikuti Kompetisi Moot Court Peradilan Militer, Mahasiswa UNU Cirebon Petarung SejatiLatihan Dasar Mahasiswa Institut Madani Nusantara, Legislator Gerindra Tekankan Wawasan Kebangsaan Bagi Mahasiswa
Dalam silaturahmi ini disampaikan gagasan-gagasan serta sumbang pemikiran. Sebagai pelaku sejarah berdirinya NKRI, Kraton Kasepuhan tetap menjaga keutuhann NKRI dari berbagai bentuk gangguan terhadap stabilitas negara. Kraton Kasepuhan bertekad kuat untuk ikut berperan aktif dalam mengikis paham radikalisme yang merusak tatanan masyarakat Indonesia.
Bagi Sultan Sepuh Aloeda II, generasi penerus bangsa untuk tidak melupakan sejarah perjuangan bangsa Indonesia melalui kerajaan-kerajaan di nusantara.
“Bangsa ini berdiri awalnya dari kerajaan, karena dijajah selama 350 tahun akhirnya kerajaan ini porak-poranda, banyak raja-raja yang terbunuh, karena kerajaan-kerajaan inilah yang mepersatukan rakyatnya dan melakukan perlawanan. Karena menggunakan senjata tradisional dan kalah oleh senjata modern penjajah pada masa itu,“ ungkapnya.
Sultan Sepuh Aloeda II membeberkan Pancasila adalah ideologi yang tepat bagi negara Indonesia sebagai negara kesatuan yang terdiri dari kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Indonesia.
“Yang dibangun dari puncak-puncak peradaban mulai dari Aceh, Jawa, Papua, Halmahera, sampai NTT, NKRI dibangun di atas landasan puncak-puncak Nusantara. Oleh karena itu, mari kita menilai implementasi nilai-nilai Pancasila dalam pembangunan nasional,” paparnya.
Keraton atau kerajaan merupakan akar budaya yang memiliki aset penting di dalamnya seperti tentang tradisi, pakaian, kuliner, hikayat cerita dan sejarah seribu raja, jalur rempah yang semua ini bisa digaungkan dengan kondisi kekinian atau zaman now, yang melibatkan kalangan milenials yang dekat dengan bidang teknologi digital.
Keberadaan kerajaan dan keraton merupakan hak asasi kebudayaan yang dlindungi UU Kebudayaan, tercatat juga dalam UU Cagar Budaya dengan persepsi kebhinekaan dan kebangsaan yang harus kembali kepada spirit atau semangat Bhineka Tunggal Ika yang mengutamakan persatuan di atas semua kepentingan. (*)
