CARUBAN NAGARI-Upaya pelurusan sejarah kraton Kasepuhan harus konsisten dilakukan agar negeri ini mampu memberikan warisan nilai-nilai luhur dari para pendiri bangsa kepada generasi penerus yang mampu memperkokoh jati diri bangsa.
“Sejumlah fakta sejarah yang terungkap terkait kehidupan Alexander atau dikenal publik sebagai Sultan Sepuh XII Alexander Radja Radjaningrat, berikut Sultan Sepuh XIII PRA Maulana Pakuningrat, Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat, dan Sultan Sepuh XV PRA Luqman Zulkaedin, praktis bukan keturunan dari Sultan Sepuh XI Radja Jamaludin Aluda Tajul Arifin. Sultan Sepuh XII hingga XV pun disebut bukan keturunan murni dari Sunan Gunung Jati. Fakta tersebut harus segera menjadi bahan koreksi dari sejarah nasional yang tertulis saat ini. Agar nilai-nilai luhur yang ditanamkan para pendiri bangsa dapat dipahami secara utuh oleh generasi penerus,” kata Sultan Sepuh Aloeda II Raden Rahardjo Djali usai bertemu dengan Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya di Pekalongan.
Pada kesempatan tersebut, dia menjelaskan, silsilah keluarga Sultan Sepuh XI Radja Jamaludin Aluda Tajul Arifin yang memiliki dua orang istri yakni Raden Aju Radjapamerat (wafat 1922) dan Nji Mas Rukiah (Wafat 1979).
https://www.youtube.com/watch?v=GYSyucDpdJg&t=322s
Baca Juga:Sultan Sepuh Aloeda II Serahkan Kajian Fakta Sejarah dan Hukum Keraton Kasepuhan ke Wali Kota CirebonWali Kota Cirebon Gagal Pertemukan 2 Sultan Kraton Kasepuhan
Bagi Sultan Sepuh Aloeda II Raden Rahardjo Djali mengungkapkan fakta sejarah ini sangatlah penting.
“Dalam upaya pelurusan sejarah dari para leluhur agar mampu mewarisi nilai-nilai luhur dari para pendahulu bangsa. Saya datang ke sini untuk menjaga silaturahmi. Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya sebagai orangtua kita. Saya wajib menyampaikan fakta dan data sejarah kraton Kasepuhan kepada beliau,” ungkapnya.
Menurut Sultan Sepuh Aloeda II, Habib Luthfi sangat antusias mendengar dan menyimak fakta sejarah yang disampaikan dalam bentuk dokumen arsip yang selama ini dikenal masyarakat sebagai bagian dari sejarah peteng.

Diketahui, mustasyar PBNU KH Habib Luthfi bin Yahya mengajak masyarakat dan bangsa Indonesia untuk memahami sejarah. Menurutnya, pemahaman atas sejarah perjalanan bangsa tidak kehilangan relevansinya di masa kini.
“Zaman sekarang penting memahami sejarah,” kata Habib Luthfi saat memberikan taushiyah pada zikir akbar Peringatan Tahun Baru Islam 1439 Hijriyah di Alun-alun Hanggawana Slawi, Kamis (21/9) lalu.
