CARUBAN NAGARI-Nama merupakan identitas bagi seseorang. Pemberian nama, terutama bagi buah hati yang baru lahir, biasanya, akan mempertimbangkan banyak hal.
Mulai dari nama yang mengandung doa dari para orang tua untuk anaknya hingga nama yang terinspirasi dari figur tertentu supaya si anak menjadi seperti tokoh tersebut.
Di Jawa Barat, khususnya di kalangan orang Sunda, pemberian nama juga mengacu kepada hal tersebut. Pada zaman dulu, nama-nama Sunda seperti Asep hingga Ujang lumrah diberikan kepada anak laki-laki atau Eneng dan Euis bagi anak perempuan.
Baca Juga:PLTM Bungbulang Garut Jebol, Diduga Karena Pergerakan TanahSultan Sepuh Aloeda II Keliling Kraton Kasepuhan, Museum Pusaka, dan Alun-Alun Sangkala Buana
Dalam makalah berjudul ‘Kosmologi Sistem Nama Diri (Antroponim) Masyarakat Sunda: dalam Konstelasi Perubahan Struktur Sosial Budaya’ karya Dede Kosasih, disebutkan proses pemberian nama di masyarakat Sunda dikenal dengan istilah pangneuneuh atau nama kesayangan.
Makalah itu diterbitkan di laman Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang disajikan dalam Seminar Internasional Hari Bahasa Ibu dengan tema ‘Menyelamatkan Bahasa Ibu sebagai Kekayaan Budaya Nasional’ di Gedung Merdeka, Kota Bandung pada 19-20 Februari 2010.
Dalam makalahnya, Dede Kosasih mengatakan pangneuneuh biasanya digunakan untuk memudahkan pemanggilan nama sehari-hari. Selain itu, ada juga istilah panggogo atau panggilan sayang sebagaimana pemberian nama Asep dan Ujang untuk laki-laki hingga Eneng dan Euis untuk perempuan.
Dede Kosasih menerangkan, Asep merupakan nama yang berasal dari kata kasep atau tampan dalam Bahasa Indonesia. Nama panggogo lain selain Asep yaitu Acep, Ayep hingga Atep. Sementara Ujang, berasal dari kata bujang.
Eneng merujuk kepada pemberian nama untuk anak perempuan. Adapun Euis berasal dari kata geulis atau cantik, yang dalam beberapa nama lain berupa Eulis, Elis, Yelis, Nelis hingga Lilis.
Dede Kosasih dalam makalahnya juga menyebut nama-nama khas Sunda lainnya. Misalnya Oni yang berasal dari nama Roni, Utuy dari nama Guntur hingga Ima dari nama Irma.
Tak hanya itu, Dede Kosasih juga menyebut nama Ahmad atau Muhammad akhirnya menyesuaikan ketika digunakan oleh Orang Sunda. Nama tersebut menjadi Emed, Omod, Emod, Amad, Amat, Mamad, Mamat, Memed atau Memet. Juga nama Amut, Emud, Mumud, bisa diidentifikasi dari varian dari nama Mahmud.
