Sultan Sepuh Aloeda II Keliling Kraton Kasepuhan, Museum Pusaka, dan Alun-Alun Sangkala Buana

09d8d113 6d3f 4399 8e29 ee0966b8fd5f
Sultan Sepuh Aloeda II, Raharjo Djali meninjau Kraton Kasepuhan
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Sultan Sepuh Aloeda II Raden Rahardjo Djali berencana melakukan penggembokan semua pintu Keraton Kasepuhan. Namun, karena satu dan lain hal niat tersebut diurungkannya.

Dikatakan Sultan Sepuh Aloeda II, penggembokan keraton dibatalkan karena adanya permintaan dari Pemerintah Kota Cirebon. Dan menjanjikan suatu mediasi antara trah dari Keraton Kasepuhan dengan unsur Forkompimda Kota Cirebon.

“Kami batalkan penggembokan ini, karena tadi ada permintaan dari Pemkot Cirebon. Mereka bersedia memfasilitasi suatu mediasi dengan Forkompimda Kota Cirebon,” jelasnya.

Baca Juga:10 November 1945 di Surabaya, Pidato Lengkap Bung TomoBNPT Gelar Parade Budaya Nusantara, Sultan Sepuh Aloeda II: Perkuat Identitas Berkepribadian Bangsa

Meski penggembokan keraton Kasepuhan dibatalkan, Sultan Sepuh Aloeda II bersama keluarga besar trah Kasepuhan baik yang ada di dalam maupun di luar berkeliling kawasan Kraton Kasepuhan, Alun Alun Sangkala Buana, dan Museum Kraton Kasepuhan.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh keluarga besar Trah Kasepuhan selama meninjau dan berkeliling tetap menjaga kondusifitas dan ketertiban. Sehingga wisatawan tetap bisa berkunjung,” ungkapnya dan tampak didampingi pihak keamanan baik dari unsur Polri dan TNI.

Sultan Sepuh Aloeda II menyebut, alasan penggembokan keraton tersebut adalah untuk pengamanan aset-aset yang ada di Keraton Kasepuhan.

“Tujuan kami adalah, kami tidak menghendaki adanya aset keraton yang hilang atau pun dibawa oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab atau pun yang tidak dikenal oleh keluarga,” ungkapnya.

Pada saat keliling keraton Sultan Sepuh Aloeda II merasa prihatin dengan kondisi fisik keraton yang tidak terawat. Beberapa bagian sudah usang dan rusak, bahkan mengkhawatirkan keselamatan penghuni keraton maupun wisatawan yang berkunjung.

“Bisa saya tunjukan di mana beberapa tiang atau pun soko guru di bangsal itu sudah melengkung,” katanya.

Usai tiba di Umah Kulon (kediaman Sultan Aloeda II) di lingkungan Keraton Kasepuhan, Sultan Aloeda II menunjukan sejumlah dokumen legalitas dirinya sebagai pihak yang sah sebagai Sultan di Keraton Kasepuhan.

Baca Juga:2 Mobil Tertimpa Longsoran Batu di Jalan Raya Cadas PangeranPengalaman Mistis Warga Karang Jalak Hendak Menuju ATM di Jalan Sudarsono Sebelum RSD Gunung Jati Kota Cirebon

Diantaranya putusan MA, putusan PN Jakarta, putusan PN Cirebon, surat-surat dari zaman Belanda dan berbagai dokumen yang dinilai penting lainnya.

“Oleh karena itu, kami meminta Lukman untuk segera meninggalkan Keraton Kasepuhan. Karena mulai dari Alexander sampai ke Lukman tidak memiliki legalitas atas tahta Keraton Kasepuhan. Dan Lukman harus menyerahkan tahta kepada Keluarga Besar Keraton Kasepuhan, bukan kepada saya,” ungkapnya. (*)

0 Komentar