Ia sengaja menyembunyikannya dengan tujuan supaya bidadari itu mau dijadikan istri. Kemudian ia menegur dan membujuk bidadari itu agar mau dikawini. Setelah permintaan Jaka Tarub itu dipenuhi, maka sejak saat itu mereka menjadi sepasang suami-istri yang bahagia.
Dari istrinya itu, Jaka Tarub dikaruniai seorang anak yang diberi nama Atasangin. Di Banten Jaka arub berputra seorang lagi bernama Ki Gede Bagong.
Pada suatu hari istrinya ingin pergi memandikan anaknya ke sungai. Pada waktu itu periuk (tempat menanak nasinya) masih diterpanggang di atas api. Sebelum pergi, bidadari Nawangwulan, istri Jaka Tarub) itu berpesan kepada suaminya agar sekali-kali tidak membuka tutup periuk itu.
Baca Juga:Perang Jawa Saksi Pertempuran Pangeran Diponegoro Terjaga di Wilayah Borobudur14 Fakta Soal Runtuhnya Majapahit dari Raffles hingga Serat Darmagandhul
Tetapi sebaliknya, Jaka Tarub merasa penasaran akan rahasia di balik larangan tersebut dan ingin membuka tutup periuk itu. Setelah dibuka, terlihat di dalamnya ada padi yang masih bersatu dengan tangkainya.
Setelah sampai di rumah, istrinya tahu bahwa suaminya telah membuka tutup periuk itu. Ia berkata kepada suaminya dengan nada kesal, “Mas, mulai sekarang buatlah lesung (alat menumbuk padi) dengan alunya untuk menumbuk padi, karena padi itu tidak dapat ditanak denga kulit dan tangkainya sebab kau telah membuka tutup periuknya tadi.”
Demikianlah si istri tiap hari mengambil padi di lumbung untuk ditumbuk. Isi lumbung itupun makin lama makin sedikit hingga hampir habis.
Pada suatu hari si istri pergi mengambil padi lagi seperti biasa, tetapi dengan tak disangka-sangka ditemukannya baju antrakesumanya yang hilang.
Mulai saat itulah Nawangwulan timbul keinginan utnuk kembali ke kahyangan. Jakatarub, sang suami, bertanya, “bagaimana dengan anak kita yang masih kecil dan masih menyusu ini? Apakah kau tega meninggalkannya?” “Ya apa boleh buat aku harus pergi,” jawab Nawangwulan, istrinya.
“Untuk itu Mas harus membuat anjang-anjang yang dirambati tanaman labu putih. Jadi kalau anak kita ingin menyusu, letakkanlah anak itu di atas anjang-anjang. Kemudian bakarlah merang ketan hitam. Kalau saya mencium asapnya, saya akan turun ke bumi untuk menyusuinya.”
Demikianlah hal itu dilakukan oleh Jaka Tarub sampai anaknya besar dan tidak menyusu lagi. Itulah sebabnya sampai sekarang di Penganjang tidak boleh menanam labu putih dan menanam ketan hitam.
