WILAYAH Indramayu, terdapat desa bernama Penganjang, Kecamatan Sindang. Desa Penganjang sendiri menurut mitologinya didirikan oleh seorang yang bernama Ki Penganjang.
Dari desa ini terdapat situs makam Ki Penganjang alias Jaka Tarub beserta Sumur Widodaren yang menurut budaya tutur setempat menyatakan bahwa sumur tersebut dahulunya balong yang merupakan tempat para bidadari mandi.
Nama Penganjang sendiri konon berasal dari kata Anjang-Anjang, sejenis bale atau ranjang yang terbuat dari bambu, dimana tempat itu dahulunya digunakan oleh Ki Penganjang untuk membaringkan anak hasil perkawinanya dengan bidadari.
Baca Juga:Perang Jawa Saksi Pertempuran Pangeran Diponegoro Terjaga di Wilayah Borobudur14 Fakta Soal Runtuhnya Majapahit dari Raffles hingga Serat Darmagandhul
Jaka Tarub dalam masyarakat Penganjang dianggap leluhur dan pendiri desa. Dikutip dari Sejarah Indramayu dan Folklore Daerah Indramayu, hal: 313, jaman dahulu ada seorang pemuda yang mempunyai keinginan untuk menjadi seorang pengembara. Pemuda itu bernama Jaka Tarub. Jaka Tarub adalah seorang pemuda yang bertubuh tegap, gagah dan cerdas.
Demikianlah pengembaraan Jaka Tarub dari waktu ke waktu ditempuhnya denga penuh ketenangan dan ketabahan, meskipun banyak mengalami rintangan.
Jaka Tarub berasal dari Solo. Ia sampai ke Indramayu sebelum Syarif Hidayatullah menyebarkan agama Islam di Cirebon. Karena takdir yang Maha Kuasa, maka Jakatarub akirnya sampai ke suatu tempat yang menjadi kisah tak terlupakan, terutama bagi orang-orang Indramayu.
Nama asli Jaka Tarub adalah Ki Gede Kirom, sedangkan nama julukannya yaitu Ki Gede Penganjang. Ki Gede Kirom mempunyai beberapa nama panggilan, diantaranya Ki Jaka Tarub, Ki Gede Penganjang, dan Ki Gede Laha, karena ia sebagai pembuat “laha” atau perikanan.
Disebut Ki Jaka Tarub karena dapat melindungi masyarakat pada waktu itu. Sedangkan nama Ki Gede Penganjang karena mulai saat itulah ditinggalkannya anjang-anjang.
Di tempat pengembaraannya itu, Jaka Tarub menemui beberapa bidadari yang sedang bersuka ria sambil mandi di sebuah telaga yang bening airnya. Tempat itu bernama Sumur Krapyak. Melihat kejadian itu, Jaka Tarub berkeinginan untuk menyaksikan lebih dekat agar lebih jelas siapa bidadari-bidadari itu. Ia mulai mengintai dari balik pepohonan yang ada di sekitar sumur.
Setelah bidadari itu puas bermain, maka pulanglah mereka ke kahyangan (langit). Tetapi salah satu dari mereka itu tidak dapat terbang karena baju antrakusumanya hilang. Jaka Tarub senang melihat bidadari itu tidak dapat pergi.
