14 Fakta Soal Runtuhnya Majapahit dari Raffles hingga Serat Darmagandhul

Gambaran Panggung atau Menara di Jaman Kerajaan Majapahit. Foto: Virtual Museum/Heuristplus Sydney
Gambaran Panggung atau Menara di Jaman Kerajaan Majapahit. (Foto: Virtual Museum/Heuristplus Sydney)
0 Komentar

KONFLIK antara Islam dan Jawa secara epik ternarasikan di serat dan babad. Keruntuhan Majapahit karena serbuan Raden Patah dikupas dengan detil dan dramatis, kemudian secara sistematis narasi ini dikembangkan oleh babad-babad atau buku-buku berikutnya sebagai setting sejarah di daerah-daerah Jawa lainnya.

Di kemudian hari narasi ini oleh para penulis sejarah dikategorikan sebagai Historiografi Tradisional.

Term historiografi tradisional ini seolah mewakili carita tutur di masyarakat dengan mengesampingkan pewarisan lisan dan catatan-catatan rahasia yang mengendap melalui ajaran-ajaran luhur para murid dan keturunan Walisongo.

Baca Juga:Misteri Gunung Api Karyamukti Fenomena Mengejutkan Situs Megalitikum Gunung PadangIni Alasan Mencari Nama Asep hingga Eneng Sulit Ditemukan di Tatar Sunda

Akibatnya jika muncul narasi lain yang menyelisihi (Historiografi Tradisional), maka segera narasi tersebut dihakimi sebagai narasi subyektif tanpa dasar yang harus disingkirkan dari panggung sejarah nasional.

Narasi mayor tentang Runtuhnya Majapahit diserang Raden Patah, masih kokoh menghegemoni tulisan-tulisan sejarah kita, sementara narasi-narasi lain dari para sejarahwan yang kritis seolah membeku sebagai wacana yang belum memiliki tempat selayaknya.

Berikut ini carubannagari kemukakan bukti-bukti sejarah dan pendapat para ahli sejarah tentang runtuhnya Majapahit, baik yang kritis maupun yang tetap kukuh memegang narasi lama.

Pertama, Thomas Stamford Raffles yang dikemukakan di dalam bukunya The History Of Java. Di dalam bukunya itu, Raffles mengemukakan pendapat bahwa kerajaan Majapahit diruntuhkan oleh Demak pada tahun 1400 “sirno ilang kertaning bumi” sesuai dengan berita tradisi (Raffles, I, 1817 :372).

Kedua, Prof. P.J. Veth dengan mendasarkan pada keterangan yang terdapat di dalam prasasti-prasasti Girindrawardana dari tahun Saka 1408, berpendapat bahwa kerajaan Majapahit baru runtuh sesudah tahun Saka 1410 atau tahun 1488 AD (Veth, I, 1896:243).

Ketiga, Dr. G.P. Rouffaer dalam karangannya yang berjudul “Wanneer is Madjapahit gevallen?” dengan panjang lebar mengupas masalah keruntuhan Kerajaan Majapahit. Di dalam karangannya itu ia mengemukakan pendapatnya bahwa Majapahit runtuh antara tahun 1516 dan 1521, yaitu kira-kira pada tahun 1518 (Rouffaer, 1899:139,144).

Keempat, tahun 1968 di dalam bukunya yang berjudul : Runtuhnja Keradjaan Hindu-Djawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, Prof. Dr. Slamet Muljana mengemukakan pendapat bahwa Majapahit runtuh pada tahun Saka 1400, akibat serangan dari Demak (Prof. Dr. Slamet Muljana, 1986:40 dst.).

0 Komentar