Menjadi menarik ketika Kompleks Makam Sunan Gunung Jati, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, ditemukan logo Freemason pada tugu pertama, pintu sebelah kiri ketika memasuki situs religi kebanggaan masyarakat Cirebon tersebut. Logo tersebut, terukir dalam piring keramik berwarna kuning dengan huruf G, logo jangka, dan mistar terukir jelas, yang tampak di tengah keduanya.
Mengapa huruf G” sebagai simbol? Dalam bahasa Inggris dan Jerman kata untuk Tuhan dimulai dengan G. Tapi tukang batu adalah institusi pendidikan, sehingga G adalah singkatan dari geometri. Bagi freemason, geometri hanyalah salah satu dari tujuh seni liberal. Seorang Mason yang tidak dapat mengingat enam lainnya hanya perlu melihat ke atas, karena semuanya tertulis di langit-langit: aritmatika, retorika, logika, tata bahasa, musik, dan astronomi. Empat kebajikan utama — ketabahan, kehati-hatian, kesederhanaan, dan keadilan — juga tertulis di sana.
Agak sulit menelusuri latar sejarah keramik bersimbol freemason di Kompleks Makam Sunan Gunung Jati ini, mengingat ratusan tahun beroperasi di nusantara, keberadaan Freemason atau dalam bahasa Belanda dikenal Vrijmetselaarij, nyaris tak tertulis dalam buku-buku sejarah. Padahal, banyak literatur yang cukup memadai untuk dijadikan rujukan penulisan sejarah tentang gerakan freemason di wilayah jajahan yang dulu bernama Hindia Belanda ini.
Baca Juga:Kisah Jaka Tarub, Cerita Babad Tanah Jawi Versi V.L. Althof di LeidenKisah Jaka Tarub, Cerita Cikal Bakal Desa Penganjang Indramayu
Hanya satu buku menjadi petunjuk penelusuran tentang keberadaan mereka di nusantara. Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1762 – 1962. Judul Asli: Vrijmetselarij en samenleving in Nederlands — Indie en Indonesie 1764-1962, karya Th. Stevens.
Tarekat Mason Bebas memiliki sejarah yang penting di Hindia Belanda dan Indonesia karena peran dan anggotanya yang adalah para pejabat pemerintah dan para profesional (hal. 73). Pada tahun 1815, Thomas Stanford Raffles dilantik menjadi anggota Tarekat Mason Bebas di Hindia Timur (nama yang dipakai di era Inggris) sebagai seorang ahli (gezzel) dan kemudian ditingkatkan menjadi suhu (meester) (hal. 82). Anggota lainnya adalah Gubernur Jenderal Deandeles (hal. 101), H. M. de Kock (hal. 104), J. van den Bosch (hal. 107), Van Mook (hal 338) dan sebagainya. Keanggotaan Tarekat Mason Bebas bukan hanya di pusat (Batavia) tetapi pejabat daerah, seperti Semarang, Surakarta dan Surabaya serta Makassar juga banyak yang menjadi anggota tarekat ini. Bukan saja para penguasa Eropa, tetapi Tarekat Mason Bebas juga diikuti oleh para pribumi seperti Paku Alam V (hal. 150) dan Paku Alam VI dan VII ( hal. 302), Aryo Notodirojo dan Mas Boedihardjo (pengurus Boedi Oetomo), Raden Adipati Tirto Koesoemo (Bupati Karanganyar), Dr. Radjiman Wediodiningrat (BPUPKI), Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo (Kepala Polisi) (hal. 167 – 172). Raden Saleh adalah anggota tarekat yang menjadi pengurus dalam loge (hal. 290). Keanggotaan juga meliputi para bupati di daerah setelah tahun 1890.
