Diketahui, saat masa pemerintahan Letnan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles, status administratif Cirebon menjadi Karesidenan yang wilayahnya meliputi lima kabupaten yaitu : Cirebon, Kuningan, Maja, Bengawan Wetan, dan Galuh. Untuk kepentingan perhitungan pajak Resident John Crawfurd telah mendata Sub Division of Cheribon atau desa-desa di Cirebon, pada saat itu di wilayah Kabupaten Cirebon terdapat 152 desa. Salah satunya tercatat dalam urutan No. 23 Gegusjik (Desa Gegesik, Kab. Cirebon).
Tesis Hazmirullah berjudul Surat-surat Thomas Stamford Raffles dan Sultan Sepuh VII Cirebon: Edisi Teks, Makna Posisi Cap, dan Gambaran Sosial Politik Tahun 1810-1812, yang dipublikasikan Repository Universitas Padjadjaran, membuktikan kesinambungan kisah historis sejak Inggris merencanakan invasi ke tanah Jawa, mengusir kekuatan Prancis-Belanda, memensiunkan para sultan di Cirebon, hingga memberlakukan reformasi agraria.
Fakta lain, keberadaan Surat Dipati Natadireja Kepada Herman Willem Daendels yang menginformasikan peristiwa pemberontakan di Cirebon pada tahun 1808 yang dipimpin oleh 3 tokoh utama yang disebut Kapala Titiga, yaitu Kulur, Rangin (Bagus Rangin), dan Draham. Surat Dipati Natadireja Kepada Herman Willem Daendels merupakan naskah koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia yang pernah diterjamahkan oleh Titin Nurhayati Mamun dan dipresentasikan dengan judul “Surat Dipati Natadireja kepada Daendels,” dalam Simposium Internasional ke-16 Pernaskahan Nusantara dan Musyawarah nasional ke-6 Manassa, Jakarta, 26-29 September 2016.
Baca Juga:Kisah Jaka Tarub, Cerita Babad Tanah Jawi Versi V.L. Althof di LeidenKisah Jaka Tarub, Cerita Cikal Bakal Desa Penganjang Indramayu
Keberadaan Letnan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles dan Herman Willem Daendels, yang tercatat dalam Vrijmetselarij en samenleving in Nederlands — Indie en Indonesie 1764-1962, membuktikan bahwa penyebaran ajaran Tarekat Mason Bebas tidak terbatas kepada elite pribumi. Ia berupaya menyebarkan ajaran tarekat kepada penduduk pada umumnya telah dimulai. Penyebaran ini tidak berarti kemudian rakyat berbondong-bondong menjadi seorang Mason Bebas, namun hanya bersifat memberikan penerangan kepada rakyat kebanyakan, dan mereka pernah singgah di Kota Wali Cirebon.
Sungguh seksi membaca kisah Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1762 – 1962. Judul Asli: Vrijmetselarij en samenleving in Nederlands — Indie en Indonesie 1764-1962, karya Th. Stevens. Jika melihat karyanya dalam sejarah Indonesia, tidak semestinya organisasi ini tidak disinggung dalam sejarah. Namun entah apa yang menyebabkan perannya seakan hilang dalam sejarah Indonesia. Bahkan gosipnya, buku ini yang dicetak sebanyak 5000 eksemplar oleh Penerbit Sinar Harapan telah diborong oleh seseorang sehingga tidak sempat beredar ke publik.
