PERINGATAN Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 membawa refleksi mendalam, terutama bagi Masyarakat Adat Nusantara (Matra).
Dalam memperingati 80 tahun Kemerdekaan Indonesia, semangat Masyarakat Adat Nusantara memegang peranan krusial. Tidak hanya sekadar slogan, melainkan sebuah kode etik moral yang sangat relevan untuk menjaga kedaulatan bangsa.
Merujuk pada martabat, kehormatan, dan harga diri. Dalam konteks kemerdekaan, Masyarakat Adat Nusantara mendorong setiap individu untuk menjunjung tinggi integritas, tidak mudah tunduk pada tekanan asing, dan berjuang untuk kebenaran. Peringatan 80 tahun kemerdekaan adalah momentum untuk menguatkan kembali harga diri bangsa di mata dunia, menolak segala bentuk intervensi yang merugikan kedaulatan negara.
Baca Juga:Mengapa Logo Perkumpulan Rahasia Itu Ada di Kompleks Makam Sunan Gunung Jati?Kisah Jaka Tarub, Cerita Babad Tanah Jawi Versi V.L. Althof di Leiden
Keberanian untuk bertindak, membela kebenaran, dan mengambil risiko demi kebaikan bersama. Semangat ini juga relevan di era modern, di mana kita dituntut untuk berani menghadapi tantangan global.​Peringatan 80 tahun kemerdekaan dapat diwujudkan melalui penguatan karakter bangsa, menanamkan nilai-nilai kejujuran, disiplin, dan etos kerja yang tinggi agar tidak mudah tergerus oleh budaya konsumtif dan korupsi.​ Setelah 80 kemerdekaan Repubilik Indonesia masyarakat adat justru menghadapi berbagai tantangan yang seolah berlawanan dengan cita-cita kemerdekaan itu sendiri.
Pergeseran identitas, budaya, globalisasi, urbanisasi, dan modernisasi turut mengikis nilai-nilai adat. Peringatan kemerdekaan ke-80 seharusnya menjadi momentum untuk merefleksikan kembali janji-janji kemerdekaan, memastikan bahwa seluruh elemen bangsa, termasuk masyarakat adat, dapat merasakan kemerdekaan sejati secara utuh.
Demikian refleksi saat Masyarakat Adat Nusantara menggelar upacara Peringatan Detik Detik Proklamasi RI di Omah Mbudur Dusun Jowahan Desa Wanurejo Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang, Minggu (17/8).
Mereka datang sejak pagi mengenakan pakaian adat berbagai daerah di Indonesia seperti kebaya gaya Yogyakarta, Solo, Mataraman, sorjan Jawa, Minangkabau, Batak dan lainnya.
Rangkaian upacara Detik Detik Proklamasi pun berlangsung khidmat. Bahkan, dengan penggunaan baju adat ini membuat peserta upacara bersemangat.
“Kita mengangkatnya ragam baju adat nusantara dalam peringatan 17 Agustus sesuai tema saat ini, Pemersatu Bangsa,” kata Pengurus DPW Matra Jateng, Nuryanto usai upacara.
Nuryanto menyebutkan peserta upacara ini adalah perwakilan dari perajin sandal Upanat 20 desa se Kecamatan Borobudur.
