Lingkungan Trowulan kini telah bertransformasi menjadi sosok yang berbeda dengan zaman dahulu. Toponiminya telah bergeser ke modernisme, meninggalkan identitas tradisional era Majapahit.
Situs Trowulan
Menurut tulisan Nurhadi Rangkuti berjudul “Daerah Pinggiran Kota Majapahit” dalam makalah Pertemuan Ilmiah Arkeologi (2002), Trowulan diklaim sebagai situs terluas Majapahit dengan wilayah mencakup masing-masing dua kecamatan dan kabupaten.
Selain itu, Situs Trowulan juga menyimpan cukup banyak artefak. Pada pertemuan Analisis Hasil Penelitian Arkeologi II pada 1988, Fadhila Arifin Aziz menyampaikan gagasannya lewat tulisan bertajuk “Limbah Sisa Fauna: Salah Satu Bentuk Hasil Perilaku Konsumsi Pangan Masyarakat Trowulan Kuno”.
Baca Juga:Masyarakat Adat Nusantara Memaknai 80 Tahun Kemerdekaan IndonesiaMengapa Logo Perkumpulan Rahasia Itu Ada di Kompleks Makam Sunan Gunung Jati?
Di pertemuan itu, Fadhila menyebut bahwa berbagai aktivitas agama, perdagangan, pertanian, dan pemerintahan Majapahit berlangsung di Trowulan. Aktivitas itu ditandai dengan peninggalan materialistik berupa candi, arca, lingga, yoni, saluran air, kanal, waduk, prasasti, dan mata uang.
Prasasti tertua yang ditemukan di Trowulan bertarikh 861 Saka, sezaman dengan pemerintahan Mpu Sinduk (929-947 M) di Kerajaan Medang atau Mataram Kuno. Dari sini dapat dikaji bahwa Trowulan sudah punya peradaban jauh sebelum Kerajaan Majapahit muncul pada 1293 Masehi.
Sementara prasasti termuda yang ditemukan di Situs Trowulan termuda adalah batu nisan di kompleks pemakaman Islam Tralaya dan bertarikh 1487 Saka.
Di sisi lain, meskipun Trowulan terletak di daerah pedalaman berupa dataran rendah, terdapat keyakinan jika kanal-kanal air berjejaring menghubungkan kota dengan sungai.
Sugeng Riyanto melalui tulisannya di jurnal Berkala Arkeologi (Vol. 30, 2010) yang berjudul “Tinjauan Kembali Keberadaan ‘Kanal’ di Kota Majapahit” belum bisa memastikan kanal-kanal itu dibangun pada masa Majapahit, tetapi bisa jadi masa sesudahnya.
Perkiraan ini meninjau daerah Trowulan semasa penjajahan Belanda digunakan sebagai sentra industri pabrik gula. Maka dari itu, dibangunlah saluran irigasi guna mengairi pertanian tebu.
Sayangnya, konstruksi historis Majapahit di Trowulan ada yang rusak dan berubah bentuknya karena aktivitas manusia seperti eksplorasi liar atau ekskavasi ilegal.
