Makam Berlambang Purnama Sidhi Era Mataram Islam di Kompleks Pemakaman Blok Wuni Dawuan Cirebon

Makam berlambang bulan purnama (purnama sidhi) era Mataram Islam
Makam berlambang bulan purnama (purnama sidhi) era Mataram Islam
0 Komentar

Sumber lain mengungkapkan, makam dengan lambang purnama sidhi biasanya merujuk pada makam yang diperkirakan berasal dari era Kesultanan Demak dan dikaitkan dengan ulama atau wali. Ciri khas makam ini adalah nisan dengan ukiran berbentuk bulatan, dikenal sebagai langgam purnama sidhi.

Nisan dengan langgam purnama sidhi umumnya ditemukan pada makam tokoh agama, seperti ulama atau wali, yang memiliki peran penting pada masa lalu.

Makam itu masih berdiri utuh di sana karena warga sekitar masih menaruh peduli untuk sekadar membersihkannya. Leluhur negeri ini memandang kuburan bukan sekadar gundukan tanah dan tempat menimbun orang mati.

Baca Juga:Pertama Kalinya Sepanjang Sejarah Blok Wuni, Terungkap Nama Pohon di Kompleks MakamDimanakah Letak Ibu Kota Majapahit?

Bila kuburan dianggap sepele, tidak mungkin para cendekiawan Jawa masa lampau menelurkan sinonim kuburan lebih dari lima, yakni kramatan, makaman, hastana, pasarean, dan jaratan. Sederet sinonim ini tertuang pada koran Darmo Kondo yang terbit di permulaan abad ke-20.

Catatan yang lebih lawas, Babad Tanah Jawa, juga melukiskan kesakralan makam sebagai pusaka keraton: “Betapa sedihnya hati saya bahwa semua pusaka telah diambil oleh putera saya raja (Amangkurat Mas). Tetapi, saya tahu bahwa sekalipun semua barang pusaka yang lain pun diambil, namun kalau saja Masjid Demak dan Makam Adilangu tetap ada, maka itu sudah cukup. Hanya dua inilah yang merupakan pusaka sejati Tanah Jawa.”

Saking lekatnya relasi antara agama dengan makam, kakek moyang negeri ini tak segan pula menaruh makam berdekatan dengan ruang sembahyang. Lihat saja di sekitar masjid Kota Gedhe, disemayamkan jasad para peletak dasar kerajaan Mataram Islam, yakni Ki Gede Pemanahan, Panembahan Senapati, dan Sunan Seda ing Krapyak.

Selain itu, dijumpai pula makam Sultan Hamengku Buwana II, Pangeran Adipati Pakualam I, serta sejumlah besar makam keluarga raja Mataram lainnya. Dalam struktur ruang Keraton Plered (1625-1677) yang didirikan Sultan Agung, Inajati Andrisijanti dalam Arkeologi Perkotaan Mataram Islam (2001) juga menemukan makam kuno di sebelah barat reruntuhan masjid.

Kenyataan ini membuktikan bahwa kombinasi masjid dengan makam menandakan orang Jawa begitu menghormati jasad manusia. Sekalipun raganya sudah berkalang tanah, tapi ruhnya diyakini masih hidup dan membersamai (ngemong) anak-cucunya dalam menentukan garis nasib di alam nyata. Makam bayi (trek-trekan) yang bercokol di bekas masjid juga dirawat dengan baik.

0 Komentar