ACAB Mencuat di Jalanan, dari New York hingga Cirebon

Gedung Markas Gegana di Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat, terbakar pada Minggu (31/8/2025) sore.
Gedung Markas Gegana di Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat, terbakar pada Minggu (31/8/2025) sore.
0 Komentar

Dalam buku Studying the British Crime Film yang ditulis oleh Paul Elliot, frasa “All Coppers Are Bastards” pertama kali muncul di Inggris pada 1920-an, kemudian disingkat menjadi “ACAB” oleh para pekerja yang melakukan aksi pemogokan pada 1940-an.

Saat itu, singkatan ACAB digunakan sebagai bentuk protes terhadap kebijakan polisi. Kondisi ekonomi yang sulit pada masa itu, termasuk pengangguran dan kelaparan, menyebabkan seringnya terjadi aksi demonstrasi. Namun, aksi para demonstran justru ditanggapi oleh polisi dengan kekerasan.

Seiring berjalannya waktu, penggunaan ACAB juga menyebar ke berbagai negara Eropa lainnya. Misalnya, penduduk Prancis menerjemahkan “all cops are bastards” menjadi “tout le monde déteste la police” yang artinya “semua orang benci polisi”.

Baca Juga:Nyi Mas Utari, Mata-Mata Mataram Sukses Membunuh Gubernur VOC Jan Pieterszoon CoenJalan Kuno Pajajaran-Majapahit di Kawasan Hutan Poros Ciamis-Banjar, Ada Punden Berundak Mengarah Kiblat

Selanjutnya, ACAB mulai muncul dalam budaya pop, seperti musik dan film. Contohnya, sebuah grup musik punk, The 4-Skins, merilis lagu berjudul “ACAB” pada 1982.

Selain itu, sebuah film drama kriminal Inggris berjudul “All Coppers Are…” yang dirilis pada 1972, di mana menggunakan slogan “All Cops Are Bastards” pada filmnya.

Di Indonesia, penggunaan ACAB mulai populer pasca reformasi tahun 1998. Slogan ini sering muncul dalam aksi-aksi demonstrasi sebagai bentuk protes terhadap tindakan polisi.

Selain ACAB, terdapat pula coretan-coretan yang secara terang-terangan menunjukkan protes dan kebencian pada polisi. Misalnya, “polisi pembunuh”, “polisi jahat saudaraku kau bunuh”, “gas air mata vs air mata ibu”, hingga “no justice no peace”.

0 Komentar