Nyi Mas Utari, Mata-Mata Mataram Sukses Membunuh Gubernur VOC Jan Pieterszoon Coen

Makam Raden Ayu Utari Sandi Jaya Ningsih di Desa Keramat, Tapos, Bogor, Jawa Barat
Makam Raden Ayu Utari Sandi Jaya Ningsih di Desa Keramat, Tapos, Bogor, Jawa Barat
0 Komentar

TIDAK banyak orang yang tahu kisah ini wanita intelejen di jaman Kerajaan Mataram di bawah kekuaasaan Sultan Agung Hanyokrokusumo, lebih banyak orang mengenal Matahari adalah Wanita yang berprofesi sebagai penari dan sekaligus intelejen/spionase. Orang mungkin sudah sering mendengar nama Matahari, tokoh mata-mata wanita legendaris, yang juga seorang penari erotis dan yang memiliki kode rahasia H21.

Tapi siapa yang pernah mendengar nama Raden Ayu Raden Ayu Utari Jayaningsih?

Kisah tentang salah satu pahlawan permpuan Jawa ini lebih mirip mitos tentang intrik politik, sensualitas, sekaligus tragedi yang melibatkan sejumlah nama besar dan pelaku sejarah.

Baca Juga:Jalan Kuno Pajajaran-Majapahit di Kawasan Hutan Poros Ciamis-Banjar, Ada Punden Berundak Mengarah KiblatRitual Ruwatan Bangsa di Candi Ngawen

Sebagaimana mitos atau tepatnya bagian kisah intelejen, kisahnya tidak pernah benar-benar tercatat dalam sejarah, hanya gaung dan kisah akhirnya yang tercatat tidak sebagaimana jalan perjuangan sebenarnya.

Mengambang seperti kabut dan sulit dibuktikan.

Bahkan sebagai spionase Kerajaan Mataram, Raden Ayu Raden Ayu Utariningsih lebih dahulu menyandang profesi tersebut pada saat Kerajaan Mataram menyerang Batavia di dibawah pemerintahan J.P. Coen bulan Mei 1629. Sedangkan Matahasi mata-mata Jerman yang hidup di era Perang Dunia I dan dieksekusi oleh regu tembak Prancis pada 15 Oktober 1917 atas tuduhan spionase untuk Jerman.

Siapa itu Raden Ayu Raden Ayu Utarijayaningsih?

Sri Raden Ayu Utari Jayaningsih adalah cicit dari Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam yang saat ini dikenal sebagai Kesultanan Yogyakarta. Raden Ayu Utari merupakan anak dari Bagus Wonoboyo dengan Nyimas Linggarjati. Bagus Wonoboyo adalah anak Rara Pembayun (putri sulung Panembahan Senapati) dengan Ki Ageng Mangir. Rara Pembayun diutus ayahandanya untuk menyusup ke tanah perdikan Mangir (Bantul).

Ki Ageng Mangir adalah keturunan dari Raja Brawijaya V , yang tidak mau tunduk kepada Kesultanan Mataram di bawah Panembahan Senopati (Danang Sutawijaya). Dengan siasat Ki Juru Mertani , tanah perdikan Mangir bisa ditundukkan melalui siasat spionase dengan menyusupkan Rara Pembayun sebagai penari ledek ke Mangir, sehingga Ki Ageng Mangir “tunduk” ke Mataram Islam dengan menyerahkan pusaka tombak Ki Baruklinting.

0 Komentar