RIBUAN warga tumpah ruah di Situs Balong Kramat Tuk, Desa Kertawinangun, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Kamis pagi (11/9/2025). Mereka hadir untuk mengikuti ritual tahunan Muludan, tradisi turun-temurun masyarakat setempat dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Prosesi utama ditandai dengan pengangkatan kayu perbatang, pusaka peninggalan Pangeran Mancur Jaya, yang hanya boleh dilakukan oleh keturunannya. Kayu tersebut kemudian disemayamkan di rumah juru kunci untuk didoakan bersama.
“Ritual ini selalu digelar setiap 19 Mulud dengan doa, taburan bunga, dan kemenyan sebagai penghormatan kepada leluhur. Meski sederhana, ini adalah kewajiban yang harus kami laksanakan,” ujar Raden Suparja, juru kunci Balong Kramat Tuk.
Baca Juga:Tolong Kembalikan! Arca Simbol Pemerintah Kediri Hilang Saat Museum Bagawanta Bhari Dijarah MassaRatu Laut Utara dari Cirebon hingga Banyuwangi, Sukar Ditelusuri
Namun, ia mengakui bahwa penyelenggaraan masih terkendala minimnya dukungan pemerintah. Hanya sekitar 10 persen biaya yang ditopang pemerintah, selebihnya berasal dari swadaya masyarakat dan bantuan lembaga keuangan.
“Boro-boro bisa menjamu tamu, kadang hanya sekadarnya saja. Tapi ritual ini tetap harus jalan. Kami berharap perhatian pemerintah semakin besar agar tradisi ini lestari sekaligus mengangkat seni budaya Cirebon,” tambahnya.
Meski penuh keterbatasan, acara tetap meriah dengan penampilan sekitar 25 kesenian tradisional, seperti tari topeng, kuda lumping, hingga sintren. Sejumlah UMKM lokal juga ikut memeriahkan dengan menjajakan emping melinjo dan kuliner khas, sehingga turut mendongkrak ekonomi masyarakat sekitar.
Di sisi lain, pengamat seni dan budaya Cirebon, Prabu Diaz, menegaskan pentingnya menjaga situs Balong Kramat Tuk karena memiliki nilai sejarah tinggi. Berdasarkan catatan Arsip Nasional, lokasi ini dahulu menjadi tempat ditemukannya sumber air oleh Nimas Pakungwati dan pasukan Kesultanan Cirebon.
“Ritual ini tidak bertentangan dengan ajaran Islam karena bagian dari peringatan Maulid Nabi. Tradisi semacam ini justru mengingatkan kita pada leluhur dan peninggalan berusia ratusan tahun,” jelas Prabu Diaz, yang juga Panglima Laskar Macan Ali Nusawantara.
Ia berharap pemerintah lebih peduli dalam menjaga situs-situs budaya di Cirebon, mengingat banyak di antaranya dalam kondisi memprihatinkan. “Padahal situs ini bisa menjadi destinasi wisata religi yang jarang dimiliki daerah lain,” katanya.
