Ratu Laut Utara dari Cirebon hingga Banyuwangi, Sukar Ditelusuri

Sebuah lukisan Jawa menggambarkan sosok Nyi Blorong. (Collectie Wereldmuseum (v/h Tropenmuseum), part of the N
Sebuah lukisan Jawa menggambarkan sosok Nyi Blorong. (Collectie Wereldmuseum (v/h Tropenmuseum), part of the National Museum of World Cultures)
0 Komentar

DI Pekalongan, sebuah kota pelabuhan di pantai utara Jawa, berkembang cerita mengenai sosok yang mirip Nyai Blorong. Namanya Dewi Lanjar. Sosoknya digambarkan sebagai perempuan muda, dengan rambut panjang tergerai, memakai busana Jawa, dengan bawahan kain batik motif Jlamprang.

Muasal Dewi Lanjar sukar ditelusuri. Ada kisah bahwa ia adalah putri dari kalangan lelembut di pantai utara Jawa, yang bernama lengkap Raden Nganten Dewi Lanjar.

Menurut Chusnul Hayati, dalam “Pengaruh Kemaritiman dalam Dunia Batik Pekalongan” yang termuat di majalah Jantra Vol. 7, Juni 2012, Dewi Lanjar mengutus prajurit silumannya untuk mengganggu tapa ngalong(bertapa dengan cara menggantung) Raden Bahurekso. Tak terima tapanya diganggu, Bahurekso mengamuk, mengalahkan Dewi Lanjar, dan kemudian mengambilnya sebagai istri.

Baca Juga:ACAB Mencuat di Jalanan, dari New York hingga CirebonNyi Mas Utari, Mata-Mata Mataram Sukses Membunuh Gubernur VOC Jan Pieterszoon Coen

Bahurekso sendiri dikisahkan berkarib dengan Tan Kwie Djan, yang kemudian menjadi bupati Pekalongan dan beralih nama jadi Raden Tumenggung Adipati Arya Janingrat. Namanya dipakai sebagai nama kampung, Kwijan, di sebelah timur alun-alun kota Pekalongan.

Versi lain, Dewi Lanjar memiliki nama asli Rara Kuning. Dalam bahasa Jawa, Lanjar berarti perempuan yang sudah bercerai dan belum punya anak.

Penamaan ini ada kaitannya dengan kisah hidupnya yang berat. Melansir buku Kanjeng Ratu Kidul dalam Perspektif Islam Jawa karangan Muhammad Sholikhin melalui GNFI (3/11), kala itu, Rara Kuning merupakan seorang putri yang sangat cantik. Ia sempat menikah dengan seseorang.

Tapi sayangnya, ia harus menjadi janda usai suaminya meninggal. Padahal usia pernikahan mereka baru seumur jagung. Rara Kuning selalu mengingat suaminya. Untuk terlepas dari beban hidup, ia memutuskan untuk pergi ke daerah lain dan terus berjalan ke selatan.

Tibalah ia di tepian Sungai Opak dan secara kebetulan bertemu dengan Raja Mataram Panembahan Senopati serta Mahapatih Singoranu. Mereka kemudian berbincang. Rara Kuning disarankan untuk pergi ke pantai selatan untuk bertemu dengan Ratu Kidul.

Sampai di pantai selatan, Rara Kuning bertapa hingga moksa. Ia pun berhasil bertemu dengan Ratu Kidul dan meminta agar diangkat menjadi bawahannya.

Sang Ratu Kidul menyetujuinya. Ia bersama dengan para jin diberi tugas untuk mengadang Raden Bahu yang tengah membuka wilayah di daerah Gambiran.

0 Komentar