Awalnya, para pelopor Illuminati Bavaria ingin menyebut gerakannya sebagai “Perfectibilists”, yang berarti “kesempurnaan sesungguhnya ada dalam akal manusia dan kemampuan berpikir saintifik”. Tapi karena berbagai pertimbangan, nama itu diubah menjadi Illuminati. Tujuan gerakan ini sebagaimana disebutkan di awal tulisan, memang ingin menggantikan Katolik dengan agama akal (the religion of reason) dalam kehidupan sehari-hari. Auguste Comte, filsuf positivisme Prancis abad ke-19, sempat mengonfirmasi tujuan ini.
Dari Ingolstadt, Weishaupt secara bertahap memperluas keanggotaan Illuminati ke Eichstätt, Freising, Munich, dan wilayah lainnya. Uniknya, mereka yang direkrut diutamakan yang berasal dari golongan kaya dengan usia relatif muda serta punya status sosial yang baik. Meski tidak pernah benar-benar terkonfirmasi, doktrin dan ide gerakan Illuminati menarik perhatian sekian banyak tokoh terkemuka dari berbagai kalangan intelektual Eropa. Beberapa nama kesohor yang dikaitkan dengan Illuminati di antaranya sastrawan Wolfgang von Goethe, Johann Gottfried von Herder, astronom Johann Bode, penulis Friedrich Nicolai, filsuf Friedrich Jacobi, dan penyair Friedrich Leopold.
Kegiatan Illuminati yang menarik perhatian publik memungkinkan Weishaupt memperluas gerakannya hingga ke berbagai belahan Eropa mulai dari Italia, Prancis, Polandia, hingga Denmark. Bahkan sejak 1778 mereka membuka komunikasi dan rangkaian kerjasama dengan kantong-kantong Masonik–organisasi yang telah lebih dulu lekat dengan berbagai kegiatan konspiratif.
Baca Juga:Latar Belakang Revolusi Prancis 1789: Krisis, Ketimpangan, dan Runtuhnya MonarkiRevolusi Amerika dan Pengaruh Besarnya terhadap Demokrasi Dunia
Manajemen organisasi Illuminati begitu rumit. Misalnya, dalam setiap aktivitas mereka menggunakan nama-nama sandi yang hanya dipahami sebagian kecil anggota. Weishaupt mendapatkan panggilan khusus “Spartacus”. Ini menambah kerumitan dan kesan mistik.
Ketika Karl Theodor menjadi penguasa Bavaria pada 1777, ia yang merupakan pendukung despotisme, melarang segala bentuk kelompok rahasia termasuk Illuminati. Secara internal, perpecahan akhirnya terjadi pada gerakan ini, dan ketika pemerintah Bavaria mengeluarkan Dekrit Sekuler, Illuminati pun dibubarkan. Weishaupt sempat membawa kabur sekian banyak dokumen penting Illuminati sebelum akhirnya dirampas pemerintah pada 1786.
Meski demikian, sekitar tahun 1797, Memoirs Illustrating the History of Jacobinismkarya Augustin Barruel dan Proofs of a Conspiracy karya John Robison, mengangkat teori yang menyatakan eksistensi Illuminati masih terus bertahan dan melakukan persekongkolan internasional. Mereka bahkan mengklaim bahwa Revolusi Prancis 1789 didalangi oleh Illuminati. Saking populernya kedua buku tersebut, Jedidiah Morse (pendeta di Amerika Serikat) bahkan sempat berkhotbah menentang Illuminati bersama beberapa pendeta lain.
