Dari Illuminati hingga Bumi Datar, Mengapa Teori Konspirasi Selalu Punya Pengikut?

Tampilan depan Dialog Mengenai Dua Sistem Utama Dunia, Ptolemeus dan Copernicus (Dok. Wikimedia Commons)
Tampilan depan Dialog Mengenai Dua Sistem Utama Dunia, Ptolemeus dan Copernicus (Dok. Wikimedia Commons)
0 Komentar

Teori konspirasi yang paling umum adalah teori yang mengikuti perkembangan arus politik. Acap, partai oposisi dan para pendukungnya cenderung lebih percaya soal persekongkolan jahat, ketimbang mempercayai kelompok berkuasa. Itulah kenapa kemudian teori-teori konspirasi di jagat politik kerap muncul berbarengan dengan masa pemilihan umum atau pemilihan presiden. Namun demikian, Uscinski mengaku tidak bermaksud merendahkan mereka yang percaya teori konspirasi saat mengatakan hal tersebut.

Sementara itu, berdasarkan riset yang tayang di Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology tahun 2017 menyebutkan bahwa rata-rata orang di AS dengan pendapatan rumah tangga lebih kecil, lebih meyakini adanya teori konspirasi, dibanding mereka yang berpendapatan lebih besar.

Terkait hal ini, Joseph Parent, profesor ilmu politik di Notre Dame University yang juga partner Uscinski kala menulis buku American Conspiracy Theories, mengatakan: “Dalam hal ini, teori konspirasi bisa seperti obat emosional. Anda enggan menyalahkan diri sendiri atas hal yang mungkin merugikan Anda, jadi Anda menyalahkan kekuatan yang tak terlihat,” ujarnya.

Baca Juga:Galileo vs Gereja: Konflik Sains dan Kekuasaan yang Mengguncang EropaIlluminati, Organisasi Rahasia yang Melahirkan Banyak Teori Konspirasi

Namun hal berbeda dikatakan oleh Profesor Chris French, seorang psikolog dari Universitas Goldsmith, London. Menurutnya, teori konspirasi dapat dipercaya siapapun, dengan dimensi politik apa saja (kiri, kanan, atau tengah), juga menembus lapisan kelompok sosial mana saja.

“Ketika Anda mengkaji data kependudukan, keyakinan pada konspirasi terjadi pada semua kelompok sosial, menembus gender dan umur. Mau kamu ada di spektrum kiri atau kanan, kamu bisa saja percaya teori konspirasi. Sebagian besar orang yang percaya bahwa Bush meledakkan Twin Towers adalah kelompok Demokrat, orang yang berpikir Obama memalsukan akta kelahirannya kebanyakan adalah pendukung Republik, angkanya kurang lebih sama di masing-masing partai,” ujarnya.

Selain itu, mereka yang percaya teori konspirasi sejatinya tidak terlalu percaya bahwa dunia adalah tempat yang berbahaya. Namun demikian, mereka cenderung setuju bahwa ada “tanda-tanda” yang mengarahkan dunia ini menuju ke kekacauan. Mereka pun juga meyakini bahwa objek non-manusia, seperti simbol segitiga di suatu tempat, misalnya, telah sengaja dibuat sedemikian rupa dengan tujuan tertentu.

0 Komentar