Persoalannya, ada beberapa teori konspirasi yang kelak dapat dibuktikan kebenarannya.
Pada 10 Oktober 1990, seorang gadis berusia 15 tahun asal Kuwait bernama Nayirah al-Sabah memberi kesaksian kepada Kongres AS bahwa tentara Irak telah memindahkan bayi-bayi dari inkubator dan membiarkan mereka mati. Kesaksiannya tersebut berhasil meyakinkan publik AS bahwa aksi militer terhadap Irak memang tepat guna. Ini sekaligus melahirkan teori konspirasi bahwa pengakuan Nayirah tak benar, dan hanya menjadi alasan agar AS menyerang Irak.
Pada 15 Maret 1991, John Martin, seorang wartawan ABC, melaporkan bahwa bayi-bayi tersebut meninggal karena banyak perawat dan dokter Kuwait yang berhenti bekerja atau menyelamatkan diri ke luar negeri dan dan tentara Irak juga bisa dipastikan tidak mencuri inkubator rumah sakit atau membiarkan ratusan bayi Kuwait meninggal.
Lalu pada 6 Januari 1992, opini editorial The New York Times berjudul “Remember Nayirah, Witness for Kuwait?” yang ditulis John MacArthur, mengungkapkan fakta bahwa Nayirah merupakan putri Duta Besar Kuwait untuk AS, Saud Nasir al-Sabah. Tak hanya itu, pengakuan Sabah juga ternyata telah diatur oleh perusahaan public relation Hill & Knowlton. Dengan kata lain, semua hanyalah propaganda pemerintah AS belaka.
Baca Juga:Galileo vs Gereja: Konflik Sains dan Kekuasaan yang Mengguncang EropaIlluminati, Organisasi Rahasia yang Melahirkan Banyak Teori Konspirasi
Maka terbuktilah segala kasak-kusuk konspirasi yang menyebut bahwa Nayirah dan kesaksiannya mengada-ada agar AS punya alasan untuk menyerang Irak.
Kalau begitu, pertanyaan untuk kasus seperti ini adalah: sejauh apa kita bisa percaya teori konspirasi?
