Kerajaan Galuh Purba memiliki kekuasaan yang cukup luas, mulai dari Indramayu, Cirebon, Brebes, Cilacap, Purbalingga, Tegal, Pemalang, Bumiayu, Banyumas, Banjarnegara, Kebumen, bahkan ada yang menyebutkan sampai ke Kedu, Kulonprogo dan Purwodadi.
Sampai sekarang banyak tempat didaerah tersebut yang menggunakan nama galuh, diantaranya raja Galuh (Cirebon), galuh (Purbalingga), Galuh Timur (Bumiayu), Sirah Galuh (Cilacap), Begaluh (Leksono), Samigaluh (Purworejo, Kedu), Sigaluh (Purwodadi). Menurut sejarawan Van der Meulen diduga keras bahwa semua tempat tersebut dulunya wilayah yang dikuasai oleh kerajaan Galuh Purba.
Berdasarkan prasasti Bogor, pamor kerajaan Galuh Purba sempat mengalami penurunan saat Dynasti Syilendra, di Jawa Tengah, mulai berkembang. Pusat kota Kerajaan Galuh Purba sempat dipindah ke Kawali (dekat Garut). Di sini, kerajaan pertama di Jawa Tengah itu mengganti namanya menjadi Kerajaan Galuh Kawali. Inilah zaman kemunduran Kerajaan Galuh Purba.
Baca Juga:Masa Sulit Orang-Orang Cirebon Jadi Kuli BelandaTeka-teki Langkanya Candi Kerajaan Sunda Kuno
Pada saat itu, di wilayah timur berkembang Kerajaan Kalingga yang konon merupakan kelanjutan dari Kerajaan Galuh Kalingga, sebuah Kerajaan di wilayah Galuh Purba.
Sedangkan di wilayah barat berkembang Kerajaan Tarumanegara yang merupakan kelanjutan dari Kerajaan Salakanegara. Pada saat Purnawarman menjadi Raja Tarumanegara, kerajaan Galuh Kawali berada di bawah Kerajaan Tarumanegara.
Masa kejayaan Kerajaan Galuh Purba mulai beranjak naik, saat Tarumanegara diperintah oleh Raja Candrawarman. Saat itu, kerajaan bawahan Tarumanegara mendapatkan kekuasaannya kembali, termasuk Galuh Kawali.
Pada masa Tarumanegara, Pemerintahan Raja Tarusbawa Wretikandayun, Raja Galuh Kawali memisahkan diri (merdeka) dari Tarumanegara dan mendapat dukungan dari Kerajaan Kalingga. Lalu kerajaan ini mengubah kembali namanya menjadi Kerajaan Galuh, dengan pusat pemerintahan di Banjar Pataruman.
Kerajaan Galuh inilah yang kemudian berkembang menjadi Kerajaan Pajajaran, di Jawa Barat. Untuk melestarikan keturunannya, masing-masing keturunan Kerajaan Galuh melangsungkan perkawinan. Hasil perkawinan itulah yang melahirkan raja-raja Jawa.
Jejak kebesaran Kerajaan Galuh ini bisa dilihat dari kajian bahasa E.M. Uhlenbeck tahun 1964, dalam bukunya, A Critical Survey of Studies on the Languages of Java and Madura yang menyatakan, bahasa keturunan Galuh Purba masuk ke dalam rumpun basa Jawa bagian kulon atau Bahasa Jawa Ngapak-ngapak (atau Banyumasan). (*)
