Siapa Bhumi Segandu?

Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu saat melakukan ritual di Pendopo Nyi Ratu Kembar, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (4/4/2019). Setiap malam jumat kliwon dalam tiap bulannya Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu dengan ciri khasnya bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek hitam-putih berkumpul melatunkan Kidung Alas Turi Dan Pujian Alam secara bersama-sama. (MIFTAHULHAYAT/JAWA POS)
Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu saat melakukan ritual di Pendopo Nyi Ratu Kembar, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (4/4/2019). Setiap malam jumat kliwon dalam tiap bulannya Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu dengan ciri khasnya bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek hitam-putih berkumpul melatunkan Kidung Alas Turi Dan Pujian Alam secara bersama-sama. (MIFTAHULHAYAT/JAWA POS)
0 Komentar

Ingsun titip tajug lan fakir miskin/ sumangga angger pasangan damar/penerus/ lampah ira sing bijaksana/ niatana tumindak ati sing ikhlas/tekad kang nyata/dadia panutun ning pepada/ kairing doa pangestu/dadia sinatria ingkang mayungi nagari puseur bumi. (Saya menitipkan tajug dan fakir miskin, silahkan generasi penerus meneruskan perjuangan, perbuatanmu harus bijaksana/ niatkan tindakan dengan ikhlas/ tekad yang nyata/jadia panutan dengan sesama/ teriring doa restu/ jadilah manusia yang memayungi negara sebagai pusat bumi).

Duh gusti/ mugia pasangan damar/ angsal  siraman banyu suci/ sucine banyu saking ghaibe pangeran/ ugi dipun paringi barokah/ selamet lahir batin dunia wal akherat amin ya robarl alamin.(Ya Allah semoga pancaran cahaya menjadi penyiram air suci dari ghaibnya Tuhan, dan juga semoga mendapat barokah, selamat lahir batin dunia sampai akherat amin ya robal alamin).

Bhumi segandu sebagai babakan cerita lahirnya manusia Cirebon-Dermayon ke muka bumi, berbuat kebijakan, menjelma membentuk peradaban. Menurut Kusnaka Adimiharja di daerah utara Tatar Pasundan, orang-orang Sunda sebagai penghuni awal hutan, kemudian menerima cara hidup baru. Mereka menetap dan meleburkan diri melakukan adaptasi dan akulturasi budaya yang sekarang terwujud semacam subkultur dari kebudayaan Sunda, kemudian mengkristal sebagai subkultur baru budaya Sunda-Jawa Pesisiran (Budaya Cirebon-Dermayon).

Baca Juga:Orang-Orang Arab dalam Penyebaran Islam di CirebonOrang-orang Tiongkok di Kesultanan Cirebon

Hal ini kemudian bisa terlihat dengan dialek bahasa yang berbeda. Namun, Kusnaka Adimiharja menambahkan perubahan yang mendasar dalam aspek lingkungan alam ternyata tidak selalu merubah secara keseluruhan pandangan dan nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan sebelumnya, di kalangan orang-orang Sunda sendiri sekarang masih jelas tampak sikap yang mencerminkan karakteristik kebudayaan ladang.

Risalah BudayaJauh sebelum datangnya orang-orang Belanda pembukaan hutan di daerah utara tanah Pasundan diperkirakan sudah dilakukan pada abad XVII yang dilakukan oleh orang-orang Jawa, hal ini bisa diperkuat dengan penuturan F. De Haan (1910), yang mengatakan betapa besar perubahan lingkungan di Tatar Pasundan sepanjang abad XVII sampai abad XIX berdasar dokumen-dokumen  Gubernur Jendral van Inhof bagian utara Tatar Pasundan yaitu di Muara Bantaran Jati (Nagari Caruban) dan Cimanuk (Indramayu) sudah mulai pembabakan hutan secara intensif abad XVII, atas gagasan para tetua dari Mataram untuk membuka jalur logistik menyerang VOC Batavia.

0 Komentar