SETIAP tahun acara penghargaan Tembang Pantura Awards selalu dihadirkan sebagai bentuk apresiasi terhadap industri musik tarling di wilayah Pantura Jawa Barat.Di tahun ini, Tembang Pantura Awards digelar pada Jumat 26 Juli 2019 pukul 20.00 WIB Live di RCTV, channel 34, juga bisa disaksikan melalui satelit ninmedia atau aplikasi KUGO.
Ada perbedaan antara Tembang Pantura Awards tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya, yakni tema yang diusungnya. Kali ini, acara penghargaan tahunan tersebut mengusung konsep spektakuler yaitu dengan konsep Bhumi Segandung.
Apa itu konsep Bhumi Segandu?
Ia adalah sejenis pupuh, guguritan yang memiliki makna mendalam biasanya ditembangkan pada malam hari oleh pujangga, maha guru, atau pun seorang ibu yang sedang memberi wejangan kepada anaknya.
Baca Juga:Orang-Orang Arab dalam Penyebaran Islam di CirebonOrang-orang Tiongkok di Kesultanan Cirebon
Kidung bhumi segandu merupakan pepeling hidup masyarakat Cirebon-Dermayon dengan memakai varian tafsir makna lahiriah, berisi tentang falsafah hidup, dawuh Kanjeng Sunan Gunung Jati. Konsep ajaran kidung bumi segandu bisa dipadukan dengan nadhoman maca patekah(macapat), membaca surat Al-fatihah sebagai purwa (awalan) melantunkannya.
Kidung bhumi segandu kini diadopsi oleh para seniman sebagai produk budaya. Kidung kemudian diejawantahkan oleh para sinden dalam pertunjukan wayang, selametan kelahiran, khitanan, dan pernikahan yang dilantunkan dengan gitar dan seruling.
Berikut adalah contoh kidung bhumi segandu pepekem Sunan Gunung Jati Bismillah/purwaning wiwit/liwang liwung randu kurung/ gunung sembung/ gunung jati gunung amparan/ ingkang sejatining/ sejajare lawang sanga/kang jageni tamengana pasangan damar/ panggone lingging saking kursi gading gilang kencana.(Bismillah sebagai pembuka, belantara Gunung Sembung, Gunung Amparan Jati, yang sejati sejajar pintu sembilan simbol para wali, sebagai cahaya penerang yang menduduki singgasana kursi gading gilang kencana).
Sangue syahadat iman/tekane syahadat sejati/kang jembarane liar/ byar suminar cahaya damar/ kang dadia pepadang ing Caruban Nagari/ manunggaling kaula gusti/cukup aub ora nana papa.(Bekalnya syahadat iman, datangnya syahadat sejati, yang menyebar sebagai cahaya penerang di Caruban Nagari, bersatunya rakyat dan pemimpin, dicukupkan tidak kurang apa).
