Soegra Sang Penemu Tarling

Sugra Penemu Tarling
0 Komentar

MENGAPA Gedung Kesenian ini dinamakan Mama Soegra? Siapa Mama Soegra? Dan, banyak pertanyaan bergelanyut di pikiran tentang Mama Soegra.

Pertanyaan itu muncul saat radarcirebon.com menyambangi hajat besar Tembang Pantura Award 2019 RCTV di Gedung Kesenian Mama Soegra Kabupaten Indramayu.

Dalam riwayatnya, tahun 1953 hingga tahun 1978, gedung ini dikenal sebagai Gedung Dokabu. Dokabu singkatan dari Dokter Kabupaten, karena disini digunakan sebagai kantor pemerintah untuk pelayanan kesehatan khususnya bagi Ibu dan Anak. Hingga tahun 2014, Pemerintah daerah indramayu menggunakannya sebagai kantor Dinas Kesehatan.

Baca Juga:Siapa Bhumi Segandu?Orang-Orang Arab dalam Penyebaran Islam di Cirebon

Bagi masyarakat awam pertanyaan tentang Mama Soegra menjadi keterwakilan untuk melihat sejauh mana sosok Mama Soegra dikenal oleh orang-orang yang berkecimpung di dunia berkesenian dan berkebudayaan.

Bersama Kasie Kesenian dan Tenaga Kebudayaan Kabupaten Cirebon, Asep Ruhiyat Somantri, SSn sosok Mama Soegra yang tidak begitu dikenal banyak orang dalam blantika kesenian tarling menjadi lebih akrab. Mama Soegra nyaris tenggelam oleh kebesaran nama-nama lain, seperti Jayana, Abdul Adjib, Sunarto Marta Atmaja, Dadang Darniyah, Dariyah, hingga generasi penerusnya, seperti Udin Zhaen, Sadi M., Ipang Supendi, ataupun Yoyo Suwaryo.

Sugra memang sosok seniman tarling masa lalu. Masa ketika panggung tarling hanyalah gelaran tikar di pekarangan rumah diterangi lampu tempel atau petromaks. Masa ketika tarling meramaikan hiburan warga yang tengah ‘ngobong bata’ (membakar batu-bata), ‘puputan umah’ (peresmian rumah baru), ataupun ‘kebo lairan’ (kerbau melahirkan). Masa ketika piringan hitam, pita kaset atau rekaman lainnya adalah sesuatu yang tak terbayangkan.

Sebagaimana penuturan Asep, sekitar dasawarsa 1930-an. Berawal dari kedatangan orang Belanda bernama Tuan Hendrik ke rumah ayah Sugra di Desa Kepandean, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu (sekarang menjadi Kelurahan Kepandean). Maksud Tuan Hendrik itu adalah minta tolong supaya ‘memberesi’ gitarnya yang rusak.

Sejarawan Indramayu Supali Kasim menyebutkan ayah Sugra yang bernama Pak Talam selama ini memang dikenal sebagai orang yang menguasai laras gamelan atau bunyi-bunyi nada.

Siapa sangka dari pertemuan itu menjadi suatu fenomena. Tuan Belanda itu sampai sekian hari belum juga mengambil gitarnya yang sudah selesai diberesi. Sugra dan ayahnya seringkali memainkan gitar dengan petikannya. Tentu saja petikan mereka berlaras gamelan. Menyesuaikan diri dengan bunyi gamelan.

0 Komentar