Jejak Rekam ‘Pasukan Kancil Merah’ Abdoel Kadir di Cirebon

Semuanya Untuk Cirebon Kisah Heroik Pasukan Kancil Merah dan 300x179 1
Buku Semua Untuk Cirebon Kisah Heroik Kancil Merah (IST)
0 Komentar

Pada waktu serangan para gerilyawan dimulai, tentara Belanda mulai panik. Mereka menuju kearah pelabuhan untuk membentuk pertahanan. Ketika para gerilyawan memasuki kota Cirebon, ternyata kota dalam keadaan sepi, hanya tinggal polisi dan pasukan Po An Toei (Polisi Belanda keturunan Tionghoa) di tengsi Pamitran dan terjadilah tembak-menembak yang tidak begitu lama, kurang lebih sekitar sepuluh menitan.

Kemudian Polisi dan Po an Toei tersebut melarikan diri meninggalkan pos mereka. Dari pos tengsi polisi tersebut, pasukan Kancil Merah dan para Gerilyawan mendapatkan enam pucuk senjata berikut pelurunya dan pembekalan lainya. Setelah menduduki kota selama dua jam, gerilyawan dan Pasukan Kancil Merah mengundurkan diri ke induk Pasukan di Persil, dan selanjutnya beristirahat di kampung Banjaran, Desa Sampiran.

Pada 20 Mei 1949, pukul 05.30 pagi, Pasukan Kancil Merah yang sedang beristirahat di kampung Banjaran diserang oleh pasukan Belanda dan terjadilah pertempuran sengit disekitar Balai Desa Sampiran yang mengakibatkan korban dari kedua belah pihak, dari pihak Belanda ada empat orang dan mayatnya di angkat oleh rakyat menuju tengah jalan raya, sedangkan dari pihak Pasukan Kancil Merah tidak ada korban jiwa melainkan adanya korban jiwa dari penduduk desa sekitar yang tewas bernama Bisoe dan Bella Soeprijadi anggota Polisi Militer ditawan pasukan Belanda.

Baca Juga:Maroeto Nitimihardjo Penggagas Sumpah Pemuda yang TerlupakanSiapa yang Lebih Dulu Proklamasi?

Pasukan Kancil Merah mengundurkan diri dan kemudian berkumpul di Tanjakan, dilanjutkan kearah Seladara-Simaja, dan beristirahat di Majasem. Pada 23 Mei 1949, ketika Abdoel Kadir dan Edi Hamzah beserta pasukan sedang berada di Kampung Tanjakan, mereka ditembaki oleh tentara Belanda dengan Mortir dari Ciperna.

Beberapa peluru mortil mengenai rumah-rumah penduduk, dan menelan korban jiwa tiga orang warga sekitar yang luka-luka terkena serpihan peluru. Pada 2 Juli 1949, sekitar jam 07.00 malam, pos polisi Belanda di Sunyaragi di serang oleh Pasukan Kancil Merah. Setelah terjadi baku tembak selam lima belas menit, pasukan Kancil Merah mengundurkan diri. Peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban jiwa dari kedua belah pihak. Pada 5 Juli 1949 sekotar jam 11.30, Desa Cideng ditembaki oleh tentara Belanda menggunakan mortir. Belanda mengira Pasukan Kancil Merah berada di Cideng. Akibat serangan tersebut beberapa rumah warga penduduk rusak berat akibat terkena ledakan peluru mortir dari tentara Belanda.

0 Komentar