Jejak Rekam ‘Pasukan Kancil Merah’ Abdoel Kadir di Cirebon

Semuanya Untuk Cirebon Kisah Heroik Pasukan Kancil Merah dan 300x179 1
Buku Semua Untuk Cirebon Kisah Heroik Kancil Merah (IST)
0 Komentar

Pada pertengahan bulan Juli 1949, Pasukan Kancil Merah mencegah Patroli Belanda di Desa Kepongpongan. Terjadilah pertempuran sengit selama empat jam, hingga kedua belah pihak kehabisan peluru. Mereka juga saling kejar-kejaran dan terlibat perkelahian, hingga bala bantuan tentara Belanda datang dari daerah Kalitanjung. Sedangkan pasukan Kancil Merah mendapatkan bantuan dari pasukan Boedhi Hardjo yang datang dari arah Sumber, Pimpinan sersan Tjathja. Dikarenakan kekuatan pasukan Belanda lebih besar, para pasukan Kancil Merah mengundurkan diri kearah Majasem, kemudian ke Desa Cempaka, sedangkan pasukan Boedhi Hardjo kembali ke induk pasukannya di Desa Mandala, Kecamatan Sumber. Korban yang tewas dari pihak tentara Belanda berjumlah dua orang dan beberapa diantaranya luka-luka, sedangkan dari pihak para pejuang pasukan Kancil Merah dan pasukan Boedhi Hardjo tidak ada korban jiwa.

Pada akhir Juli 1949, pasukan Kancil Merah membuat brikade pertahanan di Kampung Tanjakan, Desa Situgangga. Brigade ini di pertahankan oleh pasukan regu Sersan Koesim dan regu Sersan Targani. Pada 2 Agustus 1949 sekitar jam 04.00 sore, tentara Belanda dengan tank baja menyerang pasukan Kancil Merah di Kampung Tanjakan. Terjadilah pertempuran sengit yang sebenarnya tidak seimbang dalam persenjataannya. Tetapi, dengan cerdik Kopral Dalimoen membakar roket dan meledak dengan suara yang menggelegar sehingga menimbulkan kepanikan tentara Belanda. Akhirnya, tentara Belanda mengundurkan diri menjelang matahari terbenam dikarenakan tentara Belanda mengira bahwa pasukan Kancil Merah memiliki senjata berat.

Pada 8 Agustus 1949, Hasan Wadena Cirebon dikawal polisi saat menemui M.S Djanaka di Kampung Tanjakan untuk mengadakan pertemuan. M.S Djanaka tidak dapat memutuskan masalah ini, kemudian meminta pendapat Letnat Boedhi Hardjo, Komandan Seksi II, yang kebutulan berada di kampung Malangse dekat dengan Kampung Tanjakan. Letnan Boedhi Hardjo menganjurkan agar hal ini disampaikan kepada Komandan Wilayah Kota, yaitu Letnat Abdoel Kadir.

Baca Juga:Maroeto Nitimihardjo Penggagas Sumpah Pemuda yang TerlupakanSiapa yang Lebih Dulu Proklamasi?

Pada 11 Agustus 1949, Pasukan Kancil Merah mendapatkan perintah gencatan senjata. Gencatan antara RI dan Belanda ini berdasarkan persetujuan antara Mr. Roem dan Dr. Royen. Presiden RI dan Panglima Besar TNI Letnan Jendral Soedirman, pada 3 Agustus 1949 melalui siaran RRI Yogyakarta, memerintahkan penghentian tembak-menembak di seluruh Indonesia. Dikutip dari  A. H. Nasution, Tentara Nasional Indonesia II, 1968 gencatan senjata dinyatakan mulai berlaku ada 11 Agustus 1949 untuk Jawa dan Madura, sedangkan pada 15 Agustus 1949 untuk seluruh wilayah Indonesia.

0 Komentar