Jejak Rekam ‘Pasukan Kancil Merah’ Abdoel Kadir di Cirebon

Semuanya Untuk Cirebon Kisah Heroik Pasukan Kancil Merah dan 300x179 1
Buku Semua Untuk Cirebon Kisah Heroik Kancil Merah (IST)
0 Komentar

Seminggu kemudian tepatnya 17 Agustus 1949, pasukan Kancil Merah mendapatkan kunjungan Verbending Officier terdiri dari lima orang, yang di pimpin Letnan I Herman Sarens dan beranggotakan Letnan Muda Jogi S. Memet, Letnan Muda Djoni Abdoelrachman, Letnan Muda Djoko, dan Sersan Mayor Alfons. Awal bulan September 1949, pasukan Kancil Merah mengadakan pertemuan dengan pihak Belanda untuk membicarakan masalah gencatan senjata berdasarkan petunjuk Verbending Officier.

Sebelum pertemuan dimulai, utusan Belanda dan Pasukan Kancil Merah sepakat untuk mengibarkan bendera putih tanda gencatan senjata. Meskipun pada waktu itu pendidikan anggota pasukan relative rendah, rasa tanggung jawab dan disiplinnya sangat tinggi. Hal ini terbukti ketika pasukan tentara Belanda bertemu dengan pasukan Kancil Merah di Majasem, kedua pasukan membawa bendera putih dan tidak terjadi insiden. Mereka bersalaman, padahal beberapa hari sebelumnya mereka berseteru. Pada kesempatan itu, ada hal yang mengharukan, yaitu seorang pasukan Kancil Merah berjumpa dengan kakanya yang menjadi tentara Belanda. Keduanya berangkulan sambil menangis karena sang kakak tidak mengetahui bahwa sang adik menjadi tentara. Kakanya dari Heiho/ tentara jepang yang masuk KNIL/tentara Belanda karena di asut oleh Belanda untuk menumpas penjahat. Setelah di jelaskan bahwa gerilyawan bukanlah penjahat, melaikan pejuang kemerdekaan, barulah sang kakak mengerti. Maklum, sang kakak kurang peindidikan dan terkena oleh hasutan Belanda.

Sebelum pertemuan antara wakil TNI/ Pasukan Kancil Merah dengan Pihak Belanda dimulai, terlebih dahulu Pasman, Komandan I.D mengadakan kontak dengan pimpinan Pasukan Kancil Merah beberapa kali. Pada 10 Setember 1949, sekitar jam 09.00 pagi, pertemuan resmi di selenggarakan antara TNI yang diwakili Letnan II Abdoel Kadir dengan wakil Belanda, Kapten De Boor Komandan BIVO dan Kapten Vermeuken Komandan Batalion KNIL. Pertemuan di selenggarakan di Jalan Sunyaragi No.47, Kota Cirebon. Isi dari perundingan menyatakan bahwa Pemerintah Belanda akan menyerahkan Kedaulatan Penuh kepada Pemerintah RI beserta Perdamaian dalam artian tidak ada permusuhan kembali.

Baca Juga:Maroeto Nitimihardjo Penggagas Sumpah Pemuda yang TerlupakanSiapa yang Lebih Dulu Proklamasi?

Pada 14 September 1949 pasukan Kancil Merah Seksi III, Kompi II, Batalion Roekaman, mendapatkan perintah untuk mengadakan operasi penumpasan gerombolan DI/TII di daerah Cirebon Utara sampai perbatasan Indramayu. Pasukan Kancil Merah menyerahkan empat regu ditambah satu regu pasukan S.E. Oesman. Operasi ini selesi pada akhir bulan November 1949. Pada 10 November 1949, Letnan Abdoel Kadir dan Kopral Moechtar menerima anugrah Bintang Gerilya dari Pemerintah Republik Indonesia di Buah Dua, Sumedang. Penganugrahan Bintang Gerilya kepada para pejuang yang dianggap berjuang luar biasa diselenggarakan dalam rangka peringatan hari Pahlawan. Jumlah pejuang yang menerima Bintang Gerilya di seluruh Indonesia hanya 300 orang. Bintang Gerilya ini terbuat dari bahan pecahan granat atau pecahan peluru mortir. (*)

0 Komentar