Peristiwa Puputan Bayu, Perang di Blambangan

perang
Lukisan Puputan Bayu (NET)
0 Komentar

Awalnya, kedatangan pasukan ini disambut hangat rakyat Blambangan yang ingin melepaskan diri dari Bali. Mereka menggantungkan masa depan lebih baik kepada VOC. Kemudian, terjadilah pembunuhan besar-besaran terhadap orang Bali, terutama oleh orang-orang Bugis di Blambangan. Cukup satu bulan VOC dengan mudah menduduki Blambangan.

Euforia kemenangan VOC pun berlangsung singkat. Empat bulan setelah menjalankan pemerintahan di Blambangan, muncul pemberontakan yang dipimpin Wong Agung Wilis, saudara tiri dan mantan patih raja terakhir Blambangan, Pangeran Adipati Danuningrat.

Wilis sebenarnya orang yang ditunjuk VOC memimpin Blambangan, namun rupanya itu siasat belaka. Dia lantas memanfaatkan posisinya sebagai penguasa untuk menghimpun kekuatan yang nantinya digunakan menyerang VOC.

Baca Juga:Jenazah Stalin Dipindahkan dari Makam LeninIndonesia Merebut Papua Barat dari Nugini

Rakyat Blambangan nyatanya menahan murka. Terlebih, orang-orang asing itu bersikap kasar dan semena-mena, dan memicu bentrokan fisik di sejumlah tempat. Pemberontakan Wilis pun berlangsung setahun dan berakhir dengan penangkapannya pada 1768. Wilis dan pengikutnya kemudian dibuang ke Pulau Banda.

Dalam buku berjudul Sembah Sumpah, Politik Bahasa dan Kebudayaan Jawa yang ditulis Benedict R Anderson, dituliskan kesewenang-wenangan VOC terhadap rakyat Blambangan semakin menjadi-jadi sepeninggal Wilis. Bahan pangan milik penduduk dirampas, petani dipaksa menanam padi yang hasilnya harus diserahkan kepada Belanda, kaum muda dipekerjakan paksa tanpa upah.

Kondisi tersebut membuat warga pergi dari kampungnya untuk menyelamatkan diri. Yang menjadi tempat tujuan adalah suatu daerah bernama Bayu (sekarang termasuk wilayah Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi) yang terletak di lereng Gunung Raung. Pangeran Jagapati yang sebelumnya ikut dalam pemberontakan Wilis pun nyatanya ada di sana bersama para pengikutnya yang masih tersisa.

Mendengar Pangeran Jagapati berada di Bayu, ribuan rakyat Blambangan lantas berbondong-bondong meninggalkan desanya untuk bergabung.

Pemberontakan terbesar pun meletus di bawah kepemimpinan Susuhunan Jagapati yang membangun benteng di Bayu. Rakyat Blambangan sepakat untuk melakukan perang puputan atau pertempuran habis-habisan. Kerajaan Mengwi turut mengirimkan bantuan pasukan.

Pada 18 Desember 1771, tepat hari ini 249 tahun silam, seperti dituliskan Lekkerkerker dalam catatannya yang menjadi rujukan utama dalam penulisan sejarah tentang Puputan Bayu, ribuan prajurit Blambangan bergerak menuju arena pertempuran. Ini merupakan puncak dari peperangan yang sudah berlangsung sejak awal Agustus 1771 yang dikenal dengan nama Puputan Bayu.

0 Komentar