CARUBAN NAGARI-Bangunan Gemeentehuis karya seorang Freemason Cirebon yang berprofesi sebagai arsitek yaitu Joost Jacob Jiskoot (1896-1986). Balai Kota Cirebon saat ini menunjukkan pengaruh dari Freemasonry serta bukti eksistensinya di Cirebon.
Baca: 1 Maret 1920, Berdirinya Freemason Cirebon
Meskipun JJ Jiskot seorang politisi, akan tetapi ia pernah bersama dengan F. H. Remmers menjadi perwakilan dari kotamadya (Gemeente) Cirebon untuk mengawasi proyek perumahan pemerintah “Volkshuisvesting te Cheribon” yang berada di bawah keputusan Dewan (Raad) dan Residen Cirebon tahun 1926 dikutip dari Gedenkboek der gemeente Cheribon, 1906 – 1931- door de stadsgemeente Cheribon uitg. t.g.v. het 25-jarig bestaan der gemeente op 1 April 1931, 1931.
Keikutsertaan J. J. Jiskoot dalam proyek tersebut didasarkan pada keahliannya sebagai seorang arsitek lulusan dari Technische Hogeschool Bandung (sekarang ITB) (Jiskoot, J.J., n.d.). Karya lain dari J. J. Jiskoot adalah Gemeentehuis (Gedung Balai Kota) Makassar dan Woonhuis burgemeester (Rumah Walikota) Makassar (Jiskoot, J.J.,n.d.). Keberadaaan J. J. Jiskoot dalam lingkaran Freemasonry cukup berpengaruh terhadap peningkatan karirnya karena berhasil meluaskan jaringan persaudaraan pada politikus yang memiliki kekuasaan untuk menentukan pembangunan gedung-gedung pemerintahan.
Baca Juga:1 Maret 1920, Berdirinya Freemason CirebonBerburu Freemason di Kota Wali Cirebon (Tamat)
Tahun 1927 aktifitas masonik dalam kring Cheribon menjadi sangat aktif, terutama berkat aktivitas para pengurus yang baru. Kring Cirebon memiliki tidak kurang dari 14 anggota yang setidaknya menggelar pertemuan rutin bulanan di Cirebon dan di Logegebouw Tegal.
Pada awal tahun 1928, diadakan pertemuan Kring Cirebon pada jam 7 malam yang dihadiri oleh sembilan Freemason. Pada pertemuan ini dilakukan pemilihan dewan pengurus Kring karena Jiskoot dan v. Galen akan meninggalkan Kring Cirebon dikutip dari Indisch Maçonniek Tijdschrift, 33e Jaargang, 1927-1928, 1928.
Hasil dari pemilihan tersebut didapatkan hasil delapan memilih Jantzen dan satu memilih Stocksmeier, sedangkan untuk kepengurusan terpilih Remmers sebagai sekretaris dengan empat suara, Lavalette tiga suara, Stocksmeier satu suara dan Gerbrands satu suara.
Kemudian menurut laporan Renardel de Lavalette, para anggota Kring Cirebon berdiskusi banyak hal diantaranya tentang etika, kehormatan politik, perbudakan, urusan keuangan pemerintah, dan termasuk mendiskusikan keinginan almarhum Ariodinoto untuk memiliki tempat bagi Teologi Muslim dikutip dari Indisch Maçonniek Tijdschrift, 33e Jaargang, 1927-1928, 1928.
