Fenomena menarik lainnya di era ‘Umar b. ‘Abd ‘Aziz selain kemasyhurannya dalam perekonomian negara adalah surat dakwah khalifah. Ash-Shalabi dalam Perjalanan Hidup Khalifah Yang Agung Umar Bin Abdul Aziz Ulama & Pemimpin Yang Adil sedikit menyinggung surat yang ia tuliskan kepada raja-raja Negeri al-Hind.
Melalui surat tersebut khalifah mengajak mereka kepada Islam, memberikan mereka jaminan akan berkuasa di negeri mereka, mereka juga akan mendapatkan hak yang sama dengan kaum Muslimin. Pun, mereka memikul kewajiban yang sama dengan kaum Muslimin.[4]
Riwayat lain yang menguatkan adanya korespondensi masa ‘Umar b. ‘Abd ‘Aziz dengan Raja-raja al-Hind adalah ditemukannya bukti surat kepada Raja Sriwijaya. Sriwijaya sendiri merupakan kerajaan yang besar , yang memiliki kekuasaan wilayah melintang sejauh hamparan seluruh Sumatera, Semenanjung Malaya, dan daratan Jawa. Kerajaan Sriwijaya juga telah tercatat memainkan peran sentral yang menghubungkan perdagangan di seluruh Nusantara dengan Ibukotanya Palembang.
Baca Juga:‘Persahabatan’ Haji Hasan Mustapha dan Snouck HurgronjeTurki Usmani di Mata Jawa
Penulis Arab biasa menyebutnya dengan Zabaj. Kekuasaannya berlangsung dari pertengahan akhir abad ke – 7 sampai akhir abad ke-14.[5] Tampaknya, sangat tepat jikalau Sriwijaya adalah bagian dari al-Hind, yang dalam bahasan beberapa tokoh cukup berbeda pendapat. Namun, Fatimi lebih sepakat dan menyimpulkan bahwa al Hind sebagaimana dikatakan oleh Reinaud:
“ Orang-orang Arab telah memperluas India sejauh kepulauan Jawa”[6]
Korespondensi antara Kerajaan Sriwijaya dengan Kekhilafahan Bani Umayyah tampaknya menjadi perhatian serius oleh Fatimi. Korespondensi Kekhilafahan Bani Umayyah dengan kerajaan Sriwijaya ia tuangkan dalam karyanya yang berjudul The Two Letters From The Maharaja To The Khalifah.
Sebuah tulisan khusus mengkaji surat dari Maharaja kepada khalifah. Dan disanalah akan dijumpai kisah dari Nu’aym b. Hammad yang telah mengabadikan surat tersebut. Namun, menurut Fatimi surat ini mengindikasikan kesamaan yang benar-benar mirip.
“Nu’aym b. Hammad telah menulis, “Raja al-Hind mengirim surat untuk Umar b. ‘Abd Aziz, sebagai berikut: Dari Raja yang merupakan keturunan dari seribu raja, yang permaisurinya juga, adalah keturunan seribu raja, yang didalam kandangnya memiliki seribu gajah, dan yang memiliki wilayah dua sungai yang mengairi tanaman gaharu, yang terdapat tanaman herbal, pala, dan kamper yang keharumannya menyebar ke jarak dua belas mil. Untuk Raja Arab, yang tidak menyekutukan Allah dengan yang lainnya. Saya telah mengirimkan kepada Anda, hadiah, yang tidak banyak, tetapi (hanya) sebuah salam dan saya berharap bahwa Anda dapat mengirimkan kepada saya seseorang yang bisa mengajari saya Islam dan memerintahkan saya dalam Hukum Islam, [atau dalam versi lain: Mungkin mengajari saya Islam dan menjelaskan kepada saya, perdamaian.].[7]
