Turki Usmani di Mata Jawa

Dua pelajar dari Jawa di Istanbul, tahun 1900. Sumber: Laman Facebook Ottoman Imperial Archives
Dua pelajar dari Jawa di Istanbul, tahun 1900. Sumber: Laman Facebook Ottoman Imperial Archives
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Setelah Malaka berhasil direbut oleh Portugis pada 1511, Samudra Pasai tumbuh menjadi pelabuhan utama yang dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai negara. Orang-orang Keling (orang India dari Kalingga), orang Rum (orang dari Roma, maksudnya Istambul, Turki), Arab, Persia, Gujarat, Melayu, Jawa, Siam, dan lain sebagainya.[1] Disinilah, interaksi antara bangsa Melayu dengan bangsa-bangsa muslim dari berbagai negara termasuk Turki Utsmani makin terjalin.

Sebuah Surat kabar Turki yang terbit pada saat pecah perang antara Aceh dan Belanda (1875) menceritakan bahwa pada 1516 Sultan Aceh Firman Syah telah menghubungi Siman Pasya, Wazir dari Sultan Salim I untuk mengikat tali persahabatan. Semenjak masa itulah hubungan antara Aceh dan Turki Utsmani terjalin dengan baik.[2] Selain dengan Turki, Aceh juga membangun kerja sama dalam bidang perdagangan dan militer dengan Kerajaan Islam di India, negeri-negeri Arab, dan beberapa kerajaan di Jawa.[3]

Bahkan Snouck Hurgronje mendengar berbagai cerita yang beredar di masyarakat bahwa orang Aceh merupakan campuran keturunan dari orang Arab, Persia, dan Turki. Anggapan ini menurut Denys Lombard, seorang Orientalis Perancis, nampaknya belum terbentuk lama pada masa itu. Kemunculan gagasan semacam ini mungkin dimotivasi oleh semangat untuk terus melakukan perlawanan terhadap para penjajah dari Eropa Kristen.[4]

Baca Juga:Jangka Sabda Palon: Ramalan Kehancuran Islam di Tanah Jawa?Dianggap ‘Pegawai Negeri Buruk’, Walikota Ini Diikat di Pohon

Kesultanan Aceh merupakan salah satu kerajaan Islam di nusantara yang aktif melakukan perlawanan terhadap Portugis. Sultan ‘Ali Mughayat Syah pernah menaklukkan armada Portugis yang dipimpin Jorge de Brito di laut lepas pada Mei 1521. Anak Sulungnya, Salahuddin yang menggantikan dirinya juga menyerang Malaka pada 1537, tetapi tidak berhasil.

Anak bungsu Mughayat Syah yang bernama ‘Alauddin Ri’ayat Syah al-Kahhar pada 1539 menggantikan saudaranya dan mengukuhkan Kesultanan Aceh. Sultan ‘Alauddin memiliki laskar-laskar yang terdiri dari orang-orang Turki, Kambay, dan Malabar. Sultan ‘Alauddin sendiri telah sebanyak dua kali menyerang Malaka (1547-1568).[5]

Pada tahun 1562 seorang utusan dari Aceh meminta bantuan meriam kepada Sultan Turki untuk melawan Portugis. Diceritakan juga bahwa beberapa kerajaan Hindu-Budha di Asia Tenggara bersedia masuk Islam apabila Turki Utsmani bersedia memberikan bantuan. Turki bersedia membantu persenjataan dan tenaga ahli.

0 Komentar