Loyalitas dibentuk dengan disiplin tinggi, sebab gaya hidup yang mereka tempuh juga berbahaya. Maklum, selain merayakan kebebasan, mereka juga pantang berkompromi ketika berhadapan dengan otoritas setempat.
Dalam perkembangannya AMA merasa khawatir dengan rekam jejak geng motor tipe “outlaw” karena aksi-aksi keonaran mereka hanya akan merusak reputasi AMA. Pada suatu ketika AMA pernah menyatakan 99 persen pengendara motor itu baik dan taat aturan hukum. Geng “outlaw” yang mendengarnya kemudian dengan bangga menyatakan diri sebagai yang 1 persen atau “one-percenter”.
Quinn menjelaskan bahwa geng-geng motor “outlaw” berubah mulai berubah menjadi sindikat kriminal sejak akhir 1960-an. Mereka saling memperebutkan wilayah untuk melakukan operasi pemerasan dan perdagangan ilegal—termasuk dalam perkembangannya, transaksi obat-obatan terlarang yang menjadi bisnis paling menguntungkan.
Baca Juga:6 Minggu Karawang Zona Merah, Tegur Pelaku Industri, Ridwan Kamil: Penyembunyian Informasi Kategori Pasal PidanaHutan Larangan Kawasan Prabu Jambangan di Gunung Ciremai
Media AS sering memberitakan geng-geng motor “outlaw” terlibat dalam operasi kriminal di kelab-kelab malam, perdagangan barang curian, senjata api, pencucian uang, dan lain sebagainya. Mereka juga lekat dengan kelakuan tipikal geng-geng motor di seluruh dunia: berkelahi dan membuat keonaran di tempat umum.
FBI dan Badan Intelijen Kriminal Kanada menyebut ada empat geng motor “outlaw” dengan reputasi paling tenar di AS, yakni Hells Angles, The Pagans, The Outlaws, dan The Bandidos. Keempatnya disebut sebagai “Big Four” dan masing-masing mempunyai ribuan anggota. Tiga di antaranya, kecuali The Pagans, bahkan punya cabang di beberapa negara di luar AS.
Pemerintah California memasukkan dua tambahan yakni The Mongols dan Vagos Motorcycle Club. Dalam catatan Vox, kadang geng Sons of Silence juga ditambahkan dalam daftar. Sementara Departemen Kehakiman AS menyebut dua lagi: Black Pistons dan Vagos.
Sejarah mencatat bahwa permusuhan merebak di antara geng-geng tersebut. Yang paling tersohor adalah konflik antara Hells Angels dan The Bandidos. Quin mencatat The Mongols adalah geng motor “outlaw” yang mayoritas beranggotakan pria-pria Latin dan berpusat di Los Angeles.
Mereka sedang menikmati reputasi yang cukup baik dalam beberapa dekade belakangan. Reputasi itu antara lain karena The Mongols menjalin kolaborasi dengan mafia Meksiko dalam operasi narkoba gabungan. The Bandidos juga punya kaitan dengan Los Zetas, kartel narkoba asal Meksiko yang terkenal akan kekejamannya. (*)
