Peradaban ‘Amfibi’ Nusantara, Kemana Perginya Bakau dan Rempahnya?

webinar Perhimpunan Masyarakat Etnobiologi Indonesia
Webinar Perhimpunan Masyarakat Etnobiologi Indonesia
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Nusantara merupakan bagian dari sejarah peradaban besar bangsa Austronesia dan Melanesia. Yakni peradaban “amfibi” yang hidup di air dan darat. Peradaban besar itu diraih karena keberadaan bakau dan rempah. Mampukah Indonesia mengembalikan kejayaan itu?

Demikian pemikiran Ary Prihardhyanto Keim, Etnobiolog dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, yang dipetik Mongabay Indonesia dari dua makalahnya, yakni “Minangkabau di Jalur Rempah Dunia” [2019] dan “Bakau & Peradaban Besar Austronesia: Kajian Etnobiologi” [2020].

Dijelaskan Ary dalam webinar Perhimpunan Masyarakat Etnobiologi Indonesia [Seri 1] dikutip carubannagari.radarcirebon.com, Sabtu (6/1), di kawasan Sundaland, evolusi bakau mencapai puncaknya, khususnya Rhizophoraceae dengan empat marga utama cohabitant dan diverse seperti Bruguiera, Ceriops, Kandelia dan Rhizophora. Termasuk marga dan suku bakau lainnya seperti Avicennia, Lumnitzea dan Sonneratia.

Baca Juga:Mengungkap Benua Atlantis di Laut JawaSebelum Invansi Inggris, Raffles Kirim Mata-mata ke Cirebon

“Jenis Rhizophora, Bruguiera dan Ceriops dimanfaatkan bangsa Austronesia untuk obat luka, mata, antibakteri dan virus. Mungkin ini juga berpotensi untuk penanganan virus COVID-19.”

Artinya, bakau sangat penting bagi peradaban Austronesia, sehingga banyak nama atau terminologi terkait bakau di segenap peradaban bakau. Misalnya, nama bakau atau bako [Indonesia], bakhaw [Cebu], bakawan atau bakaw [Filipina], makaukau [Hawaii], honko [Madagaskar], paakau [Maori], dan mako [Fiji].

“Selama ribuan tahun bakau dijadikan perwarna pakaian. Saat ini batik juga menggunakan perwarna dari bakau,” katanya.

Ary juga menjelaskan bagaimana pelayaran bangsa Austronesia terkait persebaran bakau. “Bangsa Austronesia berani berlayar di laut karena yakin adanya bakau.”

Bangsa Austronesia juga mengetahui atau memahami arus-arus laut khatulistiwa dan menggunakan dalam pelayarannya ke Pasifik dan benua Amerika. Buktinya, ada persebaran jenis-jenis tumbuhan dari benua Amerika ke Pasifik dan Nusantara seperti ubi manis [Ipomoea batatas].

Di masa sejarah, Sriwijaya merupakan kedatuan bakau pertama di Nusantara. Sebab wilayanya hampir sama dengan persebaran Rhizophora apiculata.

Sebagai informasiRhizophora apiculata sering disebut bakau minyak. Nama lainnya bakau tandok, bakau akik, atau bakau kacang. Bakau ini menyukai tanah berlumpur halus dan dalam, yang tergenang jika pasang serta terkena pengaruh masukan air tawar yang tetap dan kuat. Sebarannya di seluruh Indonesia, Semenanjung Malaya, Sri Lanka, Australia, serta pulau-pulau di Pasifik.

0 Komentar